Senopati Pamungkas
Oktober 9, 2006

Arswendo Atmowiloto
Buku 1 – 1100+ halaman
Buku 2 – 1600+ halaman
Upasara Wulung, adalah salah satu ksatria hasil didikan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah program yang dirancang oleh Sri Baginda Kertanegara untuk menghasilkan ksatria-ksatria pilihan yang dididik sejak lahir.
Isu akan kedatangan Tamu dari Seberang membuat jago-jago silat dari berbagai penjuru, termasuk dari Keraton Singasari, berkumpul di Perguruan Awan. Isu yang ternyata dibuat untuk memuluskan rencana kraman (makar) dari Jayakatwang. Rencana itu berhasil, dan Keraton pun berhasil direbut.
Upasara yang berhasil lolos, membantu Raden Sanggrama Wijaya untuk merebut kembali Keraton. Kedatangan pasukan Tartar yang bermaksud menaklukkan tanah Jawa, berhasil dimanfaatkan. Era Majapahit pun dimulai.
Atas jasanya, Upasara diberi gelar sebagai Senopati Pamungkas. Namun, ia menolak posisi yang diberikan dan memilih mengasingkan diri di Perguruan Awan. Takdirnya sebagai seorang ksatria tidak membiarkannya begitu saja. Ia pun berkali-kali harus melibatkan diri dalam kemelut yang muncul di Keraton.
Kidung-kidung warisan dari para tokoh yang tertulis dalam Kitab-kitab, menjadi dasar pengembangan ilmu silat dan juga falsafah hidup. Pencarian jalan atau ilmu yang sebenarnya, intrik politik serta asmara mewarnai cerita ini.
***
Novel ini bisa dikatakan sebagai novel silat. Terlihat dari penggambaran detil jalannya pertarungan, serta pembahsan mendalam mengenai jurus-jurus yang mereka gunakan. Di satu sisi, detil tersebut menunjukkan bahwa novel ini dicoba untuk digarab sesempurna mungkin. Namun, karena terlalu bertele-tele, apalagi jurus yang ada merupakan rekaan, membuat ingin cepat-cepat melewati bagian tersebut. Termasuk pula pembahsan dan pencarian mengenai makna mahamanusia yang hanya membuat pusing.
Jumlah tokoh dalam novel ini cukup banyak. Sayangnya, di samping para tokoh utama, tokoh-tokoh lain kebanyakan hanya muncul pada ‘episode’ tertentu saja. Setelah ‘episode’ itu berakhir, tak jarang mereka hilang begitu saja. Ada pula tokoh pendukung yang sesekali muncul sepanjang cerita, namun karakternya kurang berkembang dan perannya pun tidak begitu penting.
Nilai-nilai yang terkandung dalam novel ini jelas adalah falsafah Jawa. Ada nila-nilai positif yang bisa diambil. Tetapi, penghormatan dan penghambaan yang berlebihan pada orang yang lebih tinggi derajatnya, terutama kepada Raja, mungkin cukup membuat nurani gusar. (Setidaknya itu yang kurasakan, padahal ku adalah orang Jawa tulen ^-^) Karena hal tersebut justru lebih menonjolkan dan lebih memungkin orang untuk sombong dan semena-mena terhadap orang lain. Sikap ini akan terlihat jelas sekali pada sikap Raja Jayanegara >_<.
Sebagai sebuah novel, alur dari cerita terasa kurang kuat. Cerita seakan terdiri dari gabungan peristiwa yang tidak berhubungan. Episode-episode lepas yang terhubung hanya dengan keberadaan para tokoh. Ringkasan cerita di atas pun itu hanya kira-kira sepersepuluh dari keseluruhan.
Satu hal lagi yang mengganggu, pergeseran waktu. Pergeseran waktu dalam cerita ini sulit dibedakan antara masa 1 hari dengan beberapa tahun. Cerita seakan berjalan dengan runut, namun bila diperhatikan belakangan ketahuan abahwa ternyata waktu telah berlalu lebih lama dari yang diduga. Putra mahkota yang masih anak-anak, tiba-tiba sudah dewasa dan cukup umur untuk menjadi Raja. Dan beberapa hal lain yang serupa. Yang paling mengejutkan adalah ketika pada pertengahan Buku II, Upasara ditanya mengenai usianya saat itu. Ia pun menghitungnya dan berkata paling tidak umurnya sudah 40 tahun. Padahal pada awal cerita disebutkan umurnya baru 20 tahun. Dan sama sekali tidak terasakan bahwa waktu telah berlalu 20 tahun lebih.
Sebagai pengisi waktu luang novel ini cukup lumayan juga. Atau mungkin bila sedang banyak pikiran dan tidak tahu mau hendak apa
. Ah ya, dan juga bila ingin belajar menjadi seorang penjilat dan provokator, bisa belajar dari tokoh yang bernama Halayudha
. Tapi, yang jelas bukan termasuk jajaran novel favoritku. Membaca novel Haruki Murakami yang aneh dan membingungkan kurasa masih lebih menarik :p.
34 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
christiono | Oktober 9, 2006 at 2:28 pm
hmn…. bisa pinjem
).
dah coba baca samkok ta? kalo dilihat dari ringkasan diatas sepertinya ada kemiripan, tapi di samkok yang lebih kentara adalah di strateginya.
2.
ananta | Oktober 9, 2006 at 2:33 pm
gw juga minjem, ogah bgt gw beli
?
samkok blm baca, mau minjemin
3.
Thamrin | Oktober 9, 2006 at 4:08 pm
Untuk nunggu-nunggu buka puasa lumayan..
Tapi saya kok merasa agak ngantung pas ending di Senopati Pamungkas kedua, apa ada lanjutannya yach?
4.
budi | Oktober 22, 2006 at 11:14 am
Ada kok sambungannya. Judulnya ‘Tembang Tanah Air’. Tapi mungkin edisi barunya belum ada.
5.
wajib belajar | April 8, 2007 at 4:28 pm
gila emang mas wendo
buku ini bagus banget
banyak filosofi yg didapat dan rasa bangga akan nusantara
isinya lebih berbobot di banding harry poetter atau lord of the ring yg jadi berita hebot
pada kudu baca tuh
ada yg tau email mas wendo?
6.
Learning Man | Juni 21, 2007 at 8:58 pm
Ada yg punya versi digitalnya (.lit, dsb) nggak?
7.
Mahén Dra | Juni 23, 2007 at 5:19 am
Terusan buku ini berjudul Tembang Tanah Air, sesuai dengan jurus yang diciptakan oleh upasara di masa dewasa, seperti yang diceritakan di akhir.. Waktu itu pengerjaan Tembang Tanah Air terhenti gara2 Arswendo masuk bui gara2 kasus tabloid monitor di taun 80′an (Lupa pastinya taun berapa) Sebelum dijadikan trade paperback seperti yang disediakan oleh gramedia saat ini, cerita ini hadir dalam bentuk 25 seri novel, yang juga diterbitkan oleh gramedia.
Untuk generasi sekarang tentunya lebih banyak tersedia pilihan buku untuk dibaca..
Imho, buku ini sangat bagus untuk dibaca oleh generasi muda, karena sarat akan filosofi serta menumbuhkan kecintaan pada tanah air (Baca: Indonesia), hehe.. Tapi ini cuma pendapat saya saja yang waktu baca buku ini masih duduk di bangku smp di tahun 80an,
Btw, Senopati Pamungkas ini memang lebih lebih dititikberatkan pada cerita silatnya ketimbang sejarahnya sendiri. Kalo mau yang lebih dekat dengan sejarahnya mungkin lebih cocok baca “Gajah Mada” karangan Langit Kresna Hariadi, saat ini kalo gk salah sudah sampai buku kelima..
8.
ananta | Juni 24, 2007 at 4:28 pm
Seri tembang tanah air itu ga dijual lagi ya? Ga pernah liat
Seri Gajah Mada udah komplit 5 buku, tapi belum baca
Kl mau numbuhin cinta tanah air, bagus jg kl baca sejarah detil seputar kemerdekaan
9.
Herpri | Juli 23, 2007 at 5:27 pm
Dulu saya sudah beli dari Senopati Pamungkas buku 1 s/d 25
diteruskan Tembang Tanah Air buku 1 s/d 7
dan sekarang beberapa bukunya banyak yg rusak (karena sering dibaca lagi)
kalo mau beli lagi dimana ya ?, tolong dong informasinya
10.
fay | Oktober 3, 2007 at 12:07 am
aku penasaran banget sama buku tembang tanah air. Please dong kalo ada yang tau kelanjutan ceritanya, atau gimana kalo mas wendo kita paksa nerusin ceritanya……..
11.
abdi | November 5, 2007 at 11:29 am
buku ini keren koq…
justru karena anda sangat terhanyut anda jadi lupa perjalanan waktunya..seperti dijelakan dalam bukunya…lama atau cepat bukanlah maslah waktu tetapi laku..seorang mahamanusia melewati usangnya waktu. Pun dengan pembaca. Laiknya Eyang Sepuh yang mampu mengatasi mati dan hidup, buku ini mampu menghidupi dan mematikan alur yang ia bawa….
Alur yang sulit ditebak justru poin tersendiri…sepertinya arswendo ingin mengaduk-aduk emosi pembaca samapai mau muntah dan sebal…seperti Upasara, Kangkam Galih, Dewa Maut dan Halayudha, Frustasi dan kemandegan dalam memahami akan menimbolkan kebosanan. Yang mampu mengalahkan dan mengalirkan kebosanan ini yang akan menemukan jalan menjadi mahamanusia atau dengan kata lain menjadi maha pembaca….
hahahaha
jadi nggak sabar liat buku ketiganya….
12.
senapati | November 6, 2007 at 5:56 pm
aku baru beli bukunya nih, penasaran aja bagaimana akhirnya. kepikiran , pengen buat jadiin koleksi hehehehhe….
13.
agi | November 8, 2007 at 8:06 pm
Kalau menurut saya.. buku ini pada awal-awal cerita amat seru, terutama pada bagian Upasara yang membantu Raden Wijaya.. dan hubungan asmara nya yang tidak terpenuhi dengan putri Gayatri.
Tetapi pada pertengahan, apalagi ketika di bagian Upasara dikabarkan mati, cerita jadi membosankan. Ditambah dengan ditemukannya ilmu mahamanusia, cerita jadi lalu lalang membosankan.
Kekalahan tokoh Ngwang yang sakti mumpunipun hanya oleh kata-kata Gendhuk Tri, saya sebal sekali.
Dan agaknya agama yang dianut mereka kok tidak di sebut-sebut sama sekali, apa terlalu sensitif? sebab menurut saya lho, agama adalah sisi yang menonjol di kehidupan rakyat Jawa maupun Indonesia. hehehhe.
karakter Halayudha pun terlalu licik dan ambisius, saya heran tak ada yang bisa mengendusnya setelah sekian lama.
Di bagian akhir, agak tertebus kebosanan itu. Upasara Wulung menang gemilang. walau cerita agak menggantung.
Secara keseluruhan bahasa yang ditampilkan Mas Wendo luar biasa, pemilihan katanya mungkin sudah setingkat eyang Sepuh.
14.
agi | November 8, 2007 at 8:20 pm
Oh ya! sya mau nambahin… saya sebel juga ma Upasara yang kalau berkelahi jantan tapi kalau urusan perempuan, susahnya minta ampun.. huehehehe, mendingan ‘rerasan para wanita’ nya ke saya aja deh, jangan ke Upasara Wulung.
15.
sapto | Januari 3, 2008 at 2:57 pm
membaca serial ini emag kudu banyk perjuangan, perjuanagn waktu, biaya,dll. dulu sih masih cman bendel2 sampe 25 jilid. pdahal tu hnya seri pertama( Senopati Pamungkas), lum seri ke 2(lupa jdulnya), dan nunggu seri ke 3( Tembang Tanah Air)…( ntah kapan mo dibuatnya..ayo, mas wendo…lanjutin dong ceritanya). mubazir rasanya gramedia melakukan ctak ulg, nmun crtanya mengantung. apalgi djual dg harga melambung…uih..capek, deh!
mendingan baca karangan SH MIntarja ( Tanah Perdiakn Menoreh, Api di Bukit Menoreh,dll….) or karangan herman Pratikto ( Bende Mataram, Lowo ijo, Keris Tunggul Manik & Jala Karewelang, Pangeran Jayakusuma, dll) or yg terbaru karangan Langit Kresna Hariyadi yg jdlnya Gajah Mada ( ad 5 seri, dan tiap buku minimal tbalnya 400an halaman).semuanya berupa cerita silat, tp karakter ceritanya bda2 sesuai karakter pengarangnya….
16.
Nugi | Januari 19, 2008 at 9:57 pm
Hebat banget ceritanya………..
saya udah baca bertahun tahun yang lalu, tp masih nempel terus ceritanya.
Ada yg tahu tpt yg jual Gajahmada-nya Langit Kresna Hariadi seri I g? Saya udah cari dimana-mana abis
17.
asidiq | Januari 23, 2008 at 11:22 am
coba aja di gramedia jl. gajah mada medan. atau di gramedia pusat pasar kesawan medan. tapi GM 1. ada beberapa kesalahan alur cerita.
18.
ksatria lelananging jagat | Januari 29, 2008 at 10:39 am
perfect!
permasalahan yang mengganjal cuman masalah waktu aja, jangka waktu yang tidak masuk akal, dari masa baginda kertanegara masih berkuasa sampai masa jayanegara. tapi seperti kata bro abdi ‘lama atau cepat bukanlah masalah waktu tetapi laku…’ makanya ya biarin ajalah…
yang penting niat di hati :
Mantra yang berada dalam kalbuningsun;
ada tempat berisi apa saja;
tetaplah di situ, di tempatnya;
tidak goyah, tidak berpindah;
di situ ada Ingsun;
di situ ada sinar;
sinar kalbuningsun;
bercahaya karena
diriku yang bercahaya
gilang-gemilang;
bersinar karena
rasaku…
19.
Kun | Februari 17, 2008 at 8:34 pm
Eh,para maha manusia kalo boleh tau ane dari tlatah seberang pengin banget baca terusan kitab bumi yang dibilang lebih sakti n berjudul tembang tanah air??????perguruan manapun bakal ane sambangi or kalo harus ketemu langsung ma Eyang Arswendo-pun bakal ane lakuin……… inget yach ane tunggu informasinya,jgn sampe 50 taon lagi…. KELAMAAAAAAN BOZZZZZ????????
20.
smartinlife | Maret 3, 2008 at 6:49 pm
Pertama kali baca SENOPATI PAMUNGKAS di tahun 1980an… waktu itu masih berupa buku satuan… gue inget sampulnya warna merah darah…. (gue masih simpen tuh)… setelah itu ngga ada lanjutannya…
sampai gue nemuin …. dalam bentuk yang sangat berbeda dan gaya tulisan mas Wendo yang semakin OKE!!!!!
Ayo… dong penulis2 muda…. coba mulai menulis cerita fiksi sejarah dengan gayamu sendiri….
gue pengen lihat ada penerus Mas Wendo, Pak Langit (GAJAHMADA), Pak Pandir Kelana (TUSUK KONDE PUDAK WANGI), atau pak Sindhunata (ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN)
21.
Genta Nararya | Maret 24, 2008 at 2:12 pm
saya juga pernah baca buku ini , cuma udah dulu banget …
rasanya akan lebih bijak jika di lakukan cetak ulang oleh penerbitnya , apalagi dengan desain dan ukuran yang berbeda dari yang terakhir …( kemahalan untuk ukuran awam dan terlalu tebal juga berat untuk di pegang ) …targetnya pembaca baru..
sambil kita tunggu Om Arswendo meneruskan ceritanya …timingnya pas dimana saat ini LKH dengan Gajah Mada & Candi Murcanya sedang Booming .
22.
Fadjar | Juni 9, 2008 at 12:27 pm
novel favoritku.
koleksi dari zaman smp.
nunggu-nunggu pertarungan Upasara lawan Raja Dunia Berambut Merah dari Empyak Jagat di Tembang Tanahair ternyata gak jadi ditulis.
makanya sodara-sodara, kalo ngisi angket idol, jangan masukin nama nabi yah! bikin sengsara yang muat hasil angketnya.
yang pada fanatik gak terima kalo nabi idolanya masuk ranking di bawah yang lain.
Setelah check-out dari hotel prodeo, mas wendo bikin Suksma Sejati. ceritanya juga udah loncat jauh dari Tembang Tanahair, apalagi Senopati Pamungkas. di sini Gajah Mada sudah moksa. Padahal di Tembang Tanahair dia belum masuk masa jayanya
nggak tamat juga yah? capek rupanya. mending sibuk di pe-ha.
Celah ini yang dimasuki GMnya Langit Kresna. cuma sayang ngebosenin banget cara nulisnya.
23.
Arya | Juni 30, 2008 at 10:20 pm
Dear Guys, aku minta tolong dong kalo ada yg punya Tembang Tanah Air versi digitalnya. Boleh japri ke aku atau kalo punya yg asli dan ngga boleh dipinjem aku scan deh ….. Thx sebelumnya ya.
Btw, soal Arswendo kayaknya emang dia mesti tanggung jawab tuh buat nerusin. Kebetulan ada kakak temen tetangga sodara jauh bangetku yg kayaknya dulu banget tau ada sobatnya yg kenal sama Arswendo, besok aku tanyain ya. Kalo ada nanti kita imel bareng2. Hehehehehe….
arya
24.
kokot bolot | Juli 10, 2008 at 2:55 pm
iya Suksma Sejati kalo gak salah cuma sampai buku 7 or 8 gitu sampe2 pada ilang gara2 mau di koleksi gak ada kelanjutannya..
25.
oedhik | Agustus 7, 2008 at 12:53 pm
iya nech perlu pemaksaan penulisan sama mas wendo…
suksma sejati masih dijual ga?
26.
kaseyo | Oktober 25, 2008 at 5:40 am
Ikutan dibagi dong kalau ada yg punya tembang tanah air versi digital, soalnya yg versi print dah ga ada dimana-mana.
thanks ya kaka.
kaseyo – pengagum Upasara Wulung
27.
Dewi | Januari 8, 2009 at 5:02 pm
jadi gimana niy..apakah buku ini recommended? saya juga pengen beli, cuma pas gramed diskon 30% selalu saja ga kebagian. Kalau beli pas normal..kemahalan….
BTW, saya ga suka ama gaya ceritanya LKH di Gajah Mada.
Apakah gaya buku ini mirip LKH? Kalau iya mending saya ga jadi beli aja, daripada kecewa..
28.
Daus Cah Tegal | Januari 31, 2009 at 1:06 pm
dmn dapat baca ebooknya ya, baik senopati pamungkas maupun lanjutannya yg katanya ada “kidung tanah air” juga karya2 Kang Langit Kresno Hadi
29.
Jerry from Bandung | Maret 2, 2009 at 1:21 pm
buku ini memang tebal dan membacanya buat cape, tapi lumayan karena setingnya nusantara, dan yang ga lumayan gw ga bisa bikin buku setebal ini, meskipun memang ceritanya bertele-tele tapi salut buat mas wendo. bagusnya sih cetakannya kaya dulu dibikin 25 kld gituh bukannya kaya sekarang dua jilid tebal. kalo 25 jld kan bacanya bisa nyicil dan ga berat dibawa-bawa.
30.
sil ule | Maret 18, 2009 at 9:41 pm
ini novel favoritku.
31.
AMURWABHUMI | Maret 30, 2009 at 12:05 am
Leh Gbung ga nui?
Dag ada eang prnah bca NAGASASRA DAN SABUK INTEN blum?
32.
Wawan | Mei 30, 2009 at 6:53 pm
Asyik juga baca komentar2 yang sudah dibuat dari tahun 2006. Dulu buku pertama judulnya Senopati Pamungkas saja (tanpa ada embel2 angka 1). Warna merah darah, dan cerita berakhir setelah kemenangan Upasara Wulung di atas benteng setelah berhasil keluar ilmu suwungnya. Kemudian, Senopati Pamungkas ke-2 sampai 25 merupakan perjalanan Upasara Wulung dengan Gendhuk Tri.
Saya baca komentar2 di sini, kok jadi bingung. Buku ke-1 sampai ke-25 dikompilasi menjadi buku Senopati Pamungkas 1 sementara Buku terusannya Tembang Tanah Air 1-25 dikompilasi menjadi buku Senopati Pamungkas 2 yang dijual sekarang. Jadi rasanya ceritanya sudah komplit kok. Memang dulu buku ini keluarnya pada tahun 1986 waktu masih SMP jadi emang sedikit lupa bagaimana ceritanya.
Tapi yang jelas senang saja membaca lagi cerita favorit dulu.
33.
senopati14 | Juni 15, 2009 at 9:16 pm
Anak gua tak namai senopati….. yap, karena terinspirasi dgn lakon novel senopati pamungkas…!! dari pada cari nama2 yang lain alias nama import nama local saja lebih, sreg!!, rasanya. Minta ijin ya, pa’ Wendo…. ))**
salam
34.
helmidar darwis | Desember 6, 2009 at 11:32 am
aku mau tanya ,jadi Senopati Pamungkas jilid ke 2 sama juga dengan Tembang tanah air..konfirmasinya….