Arswendo Atmowiloto
Buku 1 – 1100+ halaman
Buku 2 – 1600+ halaman

Upasara Wulung, adalah salah satu ksatria hasil didikan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah program yang dirancang oleh Sri Baginda Kertanegara untuk menghasilkan ksatria-ksatria pilihan yang dididik sejak lahir.

Isu akan kedatangan Tamu dari Seberang membuat jago-jago silat dari berbagai penjuru, termasuk dari Keraton Singasari, berkumpul di Perguruan Awan. Isu yang ternyata dibuat untuk memuluskan rencana kraman (makar) dari Jayakatwang. Rencana itu berhasil, dan Keraton pun berhasil direbut.

Upasara yang berhasil lolos, membantu Raden Sanggrama Wijaya untuk merebut kembali Keraton. Kedatangan pasukan Tartar yang bermaksud menaklukkan tanah Jawa, berhasil dimanfaatkan. Era Majapahit pun dimulai.

Atas jasanya, Upasara diberi gelar sebagai Senopati Pamungkas. Namun, ia menolak posisi yang diberikan dan memilih mengasingkan diri di Perguruan Awan. Takdirnya sebagai seorang ksatria tidak membiarkannya begitu saja. Ia pun berkali-kali harus melibatkan diri dalam kemelut yang muncul di Keraton.

Kidung-kidung warisan dari para tokoh yang tertulis dalam Kitab-kitab, menjadi dasar pengembangan ilmu silat dan juga falsafah hidup. Pencarian jalan atau ilmu yang sebenarnya, intrik politik serta asmara mewarnai cerita ini.

***

Novel ini bisa dikatakan sebagai novel silat. Terlihat dari penggambaran detil jalannya pertarungan, serta pembahsan mendalam mengenai jurus-jurus yang mereka gunakan. Di satu sisi, detil tersebut menunjukkan bahwa novel ini dicoba untuk digarab sesempurna mungkin. Namun, karena terlalu bertele-tele, apalagi jurus yang ada merupakan rekaan, membuat ingin cepat-cepat melewati bagian tersebut. Termasuk pula pembahsan dan pencarian mengenai makna mahamanusia yang hanya membuat pusing.

Jumlah tokoh dalam novel ini cukup banyak. Sayangnya, di samping para tokoh utama, tokoh-tokoh lain kebanyakan hanya muncul pada ‘episode’ tertentu saja. Setelah ‘episode’ itu berakhir, tak jarang mereka hilang begitu saja. Ada pula tokoh pendukung yang sesekali muncul sepanjang cerita, namun karakternya kurang berkembang dan perannya pun tidak begitu penting.

Nilai-nilai yang terkandung dalam novel ini jelas adalah falsafah Jawa. Ada nila-nilai positif yang bisa diambil. Tetapi, penghormatan dan penghambaan yang berlebihan pada orang yang lebih tinggi derajatnya, terutama kepada Raja, mungkin cukup membuat nurani gusar. (Setidaknya itu yang kurasakan, padahal ku adalah orang Jawa tulen ^-^) Karena hal tersebut justru lebih menonjolkan dan lebih memungkin orang untuk sombong dan semena-mena terhadap orang lain. Sikap ini akan terlihat jelas sekali pada sikap Raja Jayanegara >_<.

Sebagai sebuah novel, alur dari cerita terasa kurang kuat. Cerita seakan terdiri dari gabungan peristiwa yang tidak berhubungan. Episode-episode lepas yang terhubung hanya dengan keberadaan para tokoh. Ringkasan cerita di atas pun itu hanya kira-kira sepersepuluh dari keseluruhan.

 

Satu hal lagi yang mengganggu, pergeseran waktu. Pergeseran waktu dalam cerita ini sulit dibedakan antara masa 1 hari dengan beberapa tahun. Cerita seakan berjalan dengan runut, namun bila diperhatikan belakangan ketahuan abahwa ternyata waktu telah berlalu lebih lama dari yang diduga. Putra mahkota yang masih anak-anak, tiba-tiba sudah dewasa dan cukup umur untuk menjadi Raja. Dan beberapa hal lain yang serupa. Yang paling mengejutkan adalah ketika pada pertengahan Buku II, Upasara ditanya mengenai usianya saat itu. Ia pun menghitungnya dan berkata paling tidak umurnya sudah 40 tahun. Padahal pada awal cerita disebutkan umurnya baru 20 tahun. Dan sama sekali tidak terasakan bahwa waktu telah berlalu 20 tahun lebih.

Sebagai pengisi waktu luang novel ini cukup lumayan juga. Atau mungkin bila sedang banyak pikiran dan tidak tahu mau hendak apa :D. Ah ya, dan juga bila ingin belajar menjadi seorang penjilat dan provokator, bisa belajar dari tokoh yang bernama Halayudha ;). Tapi, yang jelas bukan termasuk jajaran novel favoritku. Membaca novel Haruki Murakami yang aneh dan membingungkan kurasa masih lebih menarik :p.