Topeng
Januari 12, 2007
Kalau kata Nicky Astria dan Nike Ardilla, dunia ini panggung sandiwara. Mungkin ada benarnya juga. Karena penghuni dunia ini gemar sekali memakai ‘topeng’. Layaknya topeng yang dipakai Jim Carrey dalam film The Mask, ketika ‘topeng’ tersebut dipakai, maka sikap seseorang pun jadi berubah. Setidaknya itu yang terlihat di permukaan.
Memang kadang ‘topeng’ tersebut diperlukan. Seperti dalam hal kesopanan dan etika. Ada kalanya kita perlu memakai ‘topeng’ untuk menjaga sikap agar sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Lain halnya bila ‘topeng’ tersebut dikenakan untuk menyembunyikan perasaan. Makin sering memakainya, makin sulit pula untuk menanggalkannya. ‘Topeng’ yang dimaksud di sini adalah ‘topeng’ yang digunakan menjaga citra diri agar tidak berubah di hadapan orang lain, namun di saat yang bersamaan menyakiti perasaan pribadi. Makan ati.
Sama seperti ‘topeng’ kesopanan, sebetulnya tidak ada salahnya ‘topeng’ tersebut dipakai sesekali. Sesuai kebutuhan tentunya. Tapi ketika sudah menjadi kebiasaan? Wew, tanpa sadar ‘topeng’ itu sudah ‘menyatu’ dengan wajah. Dan harga yang harus dibayar adalah penderitaan batin.
Bersikap manis di hadapan orang lain, namun jiwa tersiksa. Seakan tiada masalah, tapi hati tidak tenang. Biasanya serangan itu akan datang ketika sendirian. Di waktu tidak ada orang di sekitar. Menyakitkan. Aku sendiri pernah mengenakan ‘topeng’ perasaan itu. Jadi kutahu pasti.
Luar biasa sebetulnya. Bagaimana mereka menyembunyikan perasaan sebenarnya, bahkan di hadapan orang-orang terdekat. Umumnya mereka tidak ingin orang lain menjadi susah karena masalah dirinya. Dan memilih untuk menutupnya rapat-rapat. Agar orang lain tidak khawatir. Yap, satu lagi pengorbanan. Even though the answer is simple, but is not that simple eh?
Sampai di sini, ku jadi berpikir kembali. Sebetulnya apa alasan ku menulis tentang semua ini? Yah semoga tidak terkesan sok bijak. Hmm, daripada makin tidak jelas, cukup sampai di sini dulu. Bila pikiran jernih mungkin kulanjutkan, atau dengan tema lain.
Terakhir, seperti kata Ariel, ‘buka dulu topengmu’ ^-^. Halah.
Entry Filed under: Daily Life, Thought. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
adit | April 6, 2007 at 4:17 pm
anak kecil itu identik dengan kepolosan
mereka belum mengerti akan keberadaan topeng2 duniawi
sedangkan orang2 dewasa terkadang mengatai sesamanya yg terkadang bertingkah laku (terlalu) polos dengan, “kamu kayak anak kecil deh”
anak kecil dengan kepolosan dan kejujurannya
versus orang dewasa dengan topeng2 duniawinya
mana yg kamu pilih ?
ps.
lama2 pertanyaannya menjurus ke:
apakah jujur itu selalu benar ?
kalo jujur kacang ijo gimana dong ?
2.
ananta | April 8, 2007 at 3:13 pm
pilih anak kecil polos yang diajarkan orang tuanya akhlak yang baik
3. Wajah-wajah Murung di Jalan « Life is like that … | Agustus 15, 2007 at 7:41 am
[...] 2007 by Adityo Ananta Seseorang akan jujur berekspresi ketika sendirian. Dapat menanggalkan topeng yang biasa dikenakan saat bersama orang lain. Tapi, di kota individualis ini … seseorang [...]