Kondangan dan Makan-makan
Januari 15, 2007
IMO, bagaimana seseorang makan menunjukkan sifat asli seseorang. Mungkin karena makan adalah naluri dasar. Menyedihkan melihat seseorang yang kurang menghargai makanan. Apa yang terjadi di suatu acara kondangan adalah contoh bagus.
Kondangan, entah dari mana kata ini berasal. Berbagai hajatan, disederhanakan sebutannya menjadi satu, kondangan. Acara makan-makan pun menjadi bagian tak terpisahkan. Kecuali bila sang empunya hajat mengadakan acaranya pada siang hari bulan Ramadhan ^-^ (baca: pelit).
Umumnya makanan disajikan secara prasmanan. Pilih yang disukai, siapa cepat dia dapat, kemudian pilih tempat yang nyaman. Hal yang mengherankan adalah, meski hidangan diatur secara rapi, jenisnya pun tidak sedikit, tapi aspek pengaturan pengambilan makanan selalu kurang atau bahkan tidak diperhatikan.
Bila jumlah undangan tidak banyak, atau ruangan cukup lapang mungkin tidak terlalu masalah. Tapi ketika jumlah undangan cukup banyak, urusan mengambil makanan bisa menjadi suatu kekacauan. Saling bersilang jalan, bahkan ada yang bingung mau mampir ke meja yang mana dulu. Tidak ada bedanya dengan keadaan lalu lintas pada jam sibuk. Mau bergerak saja susah. Karena masing-masing sibuk dengan ‘targetnya’ dan takut kehabisan. Keadaan diperparah lagi dengan orang-orang yang begitu selesai mengambil makanan dengan tanpa dosa berdiri menghalangi jalan dan dengan tenang menyantap hidangan yang baru ia ambil.
Praktek ‘calo’ pun tak jarang terjadi. Ketika tiba gilirannya, ia tidak hanya mengambil untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain yang tidak ikut mengantri. Sementara orang dibelakangnya hanya bisa melotot kesal saja. Ada pula yang tanpa malu memotong antrean.
Selesai makan, kekacauan lain muncul. Piring dan gelas bekas bergelatakan di mana saja bekas pemakainya suka. Merusak pemandangan? Siapa peduli, mungkin begitu pikirnya. Sisa makanan yang masih menumpuk di piring ternyata bukan halangan untuk menyudahi santapan. Kenapa mengambil makanan lebih banyak dari yang bisa dihabiskan sepertinya merupakan misteri.
Hmm, dandanan rapi, pakaian bagus dan sikap yang dijaga ternyata tidak menjamin perilaku makan yang beradab pula. Suatu kebiasaan yang ditumbuhkan dan diasah dari semakin banyaknya kondangan yang dihadiri sepertinya :p.
Ok, mungkin itu kembali ke individu masing-masing. Tapi pemilik hajat seharusnya berusaha meminimalisirnya. Mulai dari mengatur peletakan meja, agar tidak saling berdekatan. Mengatur peletakan hidangan agar para undangan dapat tertib mengantri. Yah mungkin kedengarannya tidak semudah mengatakannya, apalagi bila ruangan yang ada terbatas. Setidaknya ada usaha untuk itu.
Soal piring dan gelas bekas, lebih baik bila ada tempat ‘resmi’ peletakannya. Para undangan dianjurkan untuk meletakkannya di sana. Kalau perlu ada petugas (katering) yang siap menerimanya. Sehingga piring dan gelas bekas pakai tidak merusak pemandangan. Kesan jorok pun bisa dihindari.
Soal sisa makanan berlimpah, mungkin tidak ada yang bisa dilakukan pemilik acara untuk mengatasinya. Tak habis pikir tentang orang-orang seperti ini. Bagaimana mereka bisa menyia-nyiakan makanan. Mungkin mereka perlu merasakan bagaimana menderitanya kelaparan.
Entry Filed under: Daily Life, Idle Talk, Not That Important, Thought. .
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
three | Januari 26, 2007 at 1:15 pm
mungkin udah dasar manusianya kali, pernah ada pesta yng menyediakan tempat piring, eh tetep aja ditaruh di tempat dudu
2.
Anang | Januari 29, 2007 at 10:54 am
saya pasti jadi yang nomer satu tuk rebutan hehehee….
3.
Paman Tyo | Januari 29, 2007 at 10:58 am
Calo? Ya, ya,ya! Anda betul! Sudah nyalo masih menyerobot pula. Duh…
4. blogombal : catatan ringa&hellip | Januari 29, 2007 at 11:00 am
[...] UPDATE: Percaloan dalam antrean versi Ananta [...]
5.
doeL | Januari 30, 2007 at 12:53 am
Mungkin perlu sekalian dilampirkan Tatib perjamuan di undangan, biar lebih teratur kali ya?
6.
Masim "Vavai" Sugianto | Februari 13, 2007 at 10:54 am
Itu dia masalahnya mas.
Saya sendiri sempat menyesal waktu mengadakan resepsi di gedung. Kesannya kok jadi lebih berantakan ya. Masih lebih enak di rumah, masih bisa ditata dan diatur.
Apa kalau soal makanan orang jadi grusa-grusu ya ?
7.
ananta | Februari 13, 2007 at 12:52 pm
kl menurut saya, perilaku makan itu hanya salah satu cerminan diri, tidak akan mengherankan orang yang saat mengambil makanan saja ‘grusa-grusu’, ketika dia membawa kendaraan ya sama saja
kebiasaan yang harus diubah, mulai dari diri sendiri
8.
adit | April 6, 2007 at 4:04 pm
cara kita melakukan kegiatan sehari-hari yg disebut makan ini memang menunjukkan sifat “hewani” dalam diri manusia
manusia kan hidup dengan topeng mereka masing2
mereka hanya akan melepasnya pada saat2 tertentu saja
salah satunya ya saat makan
apalagi kalo makanannya GRATIS (baca: tidak bayar)
kebuasan manusia bisa mengalahkan macan kawin !! (loh…)
ps.
kata gratis (katanya) merupakan kata serapan langsung dari bahasa belanda
coba kalian makan ke amsterdam
trus bilang gratis pas mau bayar
bisa dijamin kalian akan ditendang ke tempat cuci piring ^^
jadi kata apa lagi ya yg asalnya dari sana ?
masa “verboden” ?
ps2.
kebuasan yg tadi disebutkan diatas akan bertambah beberapa kali lipat apabila kita membicarakan spesies manusia yg bernama latin “anakus koskosanae” (baca: anak kos)
apalagi kalo mereka sedang menderita penyakit “kan-ker”, “kiri manblu mnya mpe”, dan varian2 penyakit akhir bulan lainnya