Pulau-pulau Social Networks
Agustus 14, 2007
Satu lagi undangan untuk menjadi ‘teman’ masuk di Inbox. Hmm, apa ini hi5 ? Ah ya dulu pernah membuat akun di situ. Iseng, tak ingat pula siapa yang mengajak. Ya sudahlah ‘terima’ saja. Hanya beberapa detik dan beberapa klik saja. Tunggu … apa username dan password hi5 ku? Percobaan kedua berhasil. Proses undangan itu, tutup halaman, lupakan
. Eits, besoknya masuk lagi undangan serupa. Yah efek standar dari menambah ‘teman’.
Ada berapa akun social networks yang ku punya? Hmm, Friendster, hi5, Tagged, Yahoo!360, LinkedIn, Multiply, Facebook, … mungkin ada lagi, tapi kurang ingat. Kebanyakan hanya karena ingin tahu, iseng. Di antara semua itu, hanya akun di LinkedIn yang kupedulikan. Sisanya, bisa ingat username dan passwordnya saja sudah bagus. Itu belum termasuk forum-forum yang ku ikuti (baca: daftar dan lupakan untuk kebanyakan).
Mempunyai banyak akun di berbagai tempat seperti mempunyai banyak identitas di banyak tempat. Uniknya, sebagian dari relasi kita sebetulnya juga menjadi relasi di tempat lain. Redudansi. Lalu untuk apa punya banyak akun?
Sebagian mungkin memilih setia di salah satu. Karena terlanjur banyak relasi di situ. Sehingga berat untuk pindah. Lagipula tidak terlalu banyak perbedaan dari segi fitur. Tapi untuk memilih salah satu pun tidak mudah, akhirnya semua terpaksa dipelihara. Atau akhirnya diabaikan …
Menyenangkan bila semua layanan tersebut sudah mendukung microformats untuk social networks, yaitu XFN. Sehingga memudahkan untuk mengatur relasi lintas layanan. Maka ‘laut’ pemisah pulau-pulau tersebut tidak lagi menjadi halangan.
Pertanyaan: seberapa penting memiliki jaringan seperti ini?
Updated:
Quoting from here:
Most of the social networking fatigue is not because of number of friends, it is because of the number of social networks you need to participate in.
Entry Filed under: Daily Life. Tag: IT, Social Networks.
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
Amir Karimuddin | Agustus 14, 2007 at 12:42 pm
Well, life is about network, isn’t it? u will never know
2.
R. Ferdy Ferdian | Agustus 14, 2007 at 2:03 pm
gue malah pengen ngapus account friendster nih. gimana ya?
3.
Adityo Ananta | Agustus 14, 2007 at 2:28 pm
@Amir
Social networks model begini kan lebih ke ‘pertemanan’ biasa? Ya mungkin kecuali LinkedIn (walau banyak juga yang kenal saja ga tp minta add).
Maksudku, kl ingin membangun jaringan ‘profesionalisme’ tidak perlu seperti ini kan? Lebih baik pendekatan personal
@Ferdy
ah ya, fitur yang (nyaris) tidak pernah ada di web services
4.
rifka | Agustus 14, 2007 at 5:26 pm
ga penting kayaknya
males maintain
gwe gak ada satupun fs udah ilang diambil orang, yang lain gak pernah inget hehehehe
mendingan kopi darat deh
5.
Amir Karimuddin | Agustus 15, 2007 at 9:11 am
Sometimes, professionalism comes from friendship. Truly you will never know
6.
Adityo Ananta | Agustus 15, 2007 at 9:41 am
“…you will never know…”
this is something that I can’t argue with
nothing is definite in this world except death ^-^
well, social networking service is just one of the way to maintan relationship, so nothing is wrong with it
but still, it’s not for me