Sang Habib
Mei 12, 2008
Tersebutlah seorang Habib. Satu diantara sekian ribu yang memiliki gelar tersebut. Seperti biasa sang Habib dan pengikutnya mengadakan majelis pengajian rutin. Jauh hari, poster dan spanduk telah tersebar untuk mengabarkan kedatangannya.
Hari itu pun tiba, matahari sudah tenggelam beberapa jam sebelumnya. Kesibukan di tempat majelis itu digelar mulai terlihat. Kebetulan kali ini tempat itu berada di tengah-tengah pemukiman padat.
Jamaah pun berdatangan dari segala penjuru dengan berkonvoi. Dengan truk, pickup serta belasan sepeda motor. Shalawat yang dinyanyikan dengan lantang, dan dilatari tabuhan gendang serta jeritan klakson yang entah apa maksudnya. Kepala-kepala pun tertoleh mencari sumber kegaduhan. Sementara di kejauhan, di tempat pertemuan, kembang-kembang api mulai disulut.
***
Tidak perlu membicarakan keaslian keturunan. Jawab dulu pertanyaan sederhana berikut: Apakah Islam mengajarkan untuk membanggakan keturunan? Tentu tidak.
Kemuliaan seseorang tidak didapat dari garis darah. Keimanan tidak dapat pula diwarisi. Satu contoh adalah istri dan salah satu anak Nabi Nuh.
Jikalah mengaku keturunan Rasulullah saw., tidakkah sang Habib merasa jengah dengan pengkultusan akan dirinya?
Jikalah sang Habib adalah penerus ajaran Rasulullah saw., tidakkah ia merasa ada yang salah dengan semua ini?
Perlukah atribut semacam ini sebagai seorang da’i?
Entry Filed under: Daily Life, Idle Talk, Thought. Tag: habib.
10 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed




1.
Zidni | Mei 12, 2008 at 2:40 pm
Seorang anak habib juga tetap terkena larangan-larangan yang berlaku buat anak Paijo dan Paimin yang orang Jawa koek. Anak habib tetap diharamkan membuka aurat, mencuri, menipu, berzina, membunuh, berbohong, minum khamar dan semua larangan yang berlaku untuk semua muslim.
2.
christiono | Mei 12, 2008 at 3:34 pm
Wah anta keturunan habib
, titip pesan pak, kalo adain acara di dewi sartika jangan tutup jalan 1/2, bisa bikin macet sampe jauh banget
3.
irwandiaz husen | Mei 13, 2008 at 1:01 pm
no comment
4.
Amir Karimuddin | Mei 14, 2008 at 10:04 am
Ya habib itu jg manusia, bukan setengah Nabi.. kalo mengganggu ketertiban umum, apa masih dapat “pahala”?
5.
maskaes | Mei 17, 2008 at 9:55 pm
memang tidak perlu bangga menjadi anak habib,,,
tapi kyknya beban mentalnya besar deh…
kasian loh sbnrnya anak habib,,, mau berbuat sesuatu tetapi terbatas, dalam artian kalo mau berbuat sesuatu dia harus memandang bapaknya,,, jadi gk boleh sembarangan berbuat….
kasian yah…
untungnya aku bukan anak habib,
tapi berbahagialah bagi anak habib,, karna anda akan senantiasa terjaga dari perbuatan2 maksiat
(ada yang memonitoring)
6.
kiko | September 27, 2008 at 5:12 pm
“laa fadla li’arobiyyin ilaa ‘ajamiyyin” (hadits)
tidak ada kelebihan orang arab dari orang non arab.
“inna akromakum ‘indallahi atqookum” (al-ayah)
sesungguhnyapaling mulyanya kalian menurut Allah adalah yang paling taqwa.
“khoirunnaasi anfa’uhum linnaas” (hadits)
paling baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia
7.
alfiano | Oktober 27, 2008 at 5:01 pm
anak habib, kudu menjadi habib,, makan nasi kebuli
8.
frendy | Desember 20, 2008 at 4:07 pm
g ada jaminan kan keturunan nabi bs langsung msk surga…..?
9.
alhabib muchsin alhamid | Januari 26, 2009 at 9:20 pm
assalamu ‘alaikum WR.WB
PENGERTIAN AHLUL BAIT ROSULULLOH SAW.
INNAMAA YURIIDULLOHU LIYUDZHIBA ‘ANKUMUR RIJSA AHLAL BA-ITI WAYUTHOHIROKUM
TATH-HIIRO (QS.Al-Ahzab 33)
Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul
Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
QOLA ROSULULLOH SAW,: INNALLOHA TA’ALA JA’ALA DZURRIYATA KULLI NABIYYIN FII
SHULBIHI WAJA’ALA DURRIYYATII FII SHULBI ALI IBNI ABI THOLIB.(An Jabir wa
Ibnu Abas – rowahu At Thobroni).
Bersabda Rosulullah SAW : Sesungguhnya Alloh menjadikan keturunan tiap-tiap
nabi dari tulang rusuknya, Dan Alloh Ta’ala menjadikan keturunan ku dari
tulang rusuknya Ali bin Abi Tholib.
Berdasarkan ayat Al Quran diatas dan hadits nabi tersebut, kita dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Ahlul bait Rosulullah ( Keluarga keturunan Rosulullah) adalah orang-orang
yang
disucikan oleh Alloh Ta’ala dari dosa-dosa.
2. Dan keturunan Rosululloh SAW ke bawah ialah melalui Sayyina ‘Ali dengan
Sayyidatina
Fathimah Binti Rosululloh Rodliyallohu ‘anha.
Ulama Ahlul Bait Seperti Kapal Nabiyulloh Nuh As.
Qola Rosululloh SAW : Matsalu Ahli Baitii matsalu safiinati Nuh man
rokibahaa najaa waman takhollafa ‘anha ghoriqo.
artinya: Bersabda Rosululloh SAW. : Perumpamaan Ahli Baitku semisal
kapal-nya Nabiyulloh Nuh AS. Barang siapa naik kapalnya Nuh selamat, dan
barang siapa yang berselisih dari padanya (tidak ikut naik kapal) akan
tenggelam.
Tinggalan Rosulullah SAW :
1. Al Qur’an 2. Ahlul Bait.
Qola Rosululloh SAW: Wa ana taariku fiikum tsaqolaini awwaluha kitaabulloh
fiihil huda wannur man istam saka wa akhodza bihi kaana ‘alalhudaa waman
akhtho-ahu dlolla fakhudzuu bikitaabillahi ta’ala wastamsakuu bihi wa ahlu
baitii udzakkirukumulloha fii ahli baitii udzakkirukumulloha fii ahli
baitii.( An Zaid bin Arqom/Shohih, HR Imam Ahmad bin Hambal, Iyad bin Hamid
danImam Muslim, Kitab Jamius Shohir II/hal 107).
artinya :
Bersabda Rosulullah SAW : Dan saya tinggalkan padamu dua macam tinggalan.
Pertama dari keduanya ialah Kitabulloh di dalamnya ada petunjuk dan cahaya.
Barangsiapa yang memegang dan mengambil dari padanya adalah ia hidup atas
petunjuk. Dan barangsiapa yang luput dari padanya ialah sesat. Maka ambillah
kamu semua akan KITABULLOH ta’ala, dan peganglah kamu semua akan dia.
Dan tinggalan kedua AHLI BAITKU aku mengingatkan kamu semuanya, Alloh
Ta’ala dalam Ahli Baitku. Aku mengingatkan kamu semuanya, Alloh ta’ala dalam
Ahli Baitku.
10.
winy | Maret 18, 2009 at 1:13 pm
jiah….. mo debat nih jadinya? tapi maaf pak habib, saya gak ngerti ttg penarikan kesimpulannya…. bukankah tiap manusia sama saja di hadapan Allah, dan yang membedakan hanyalah takwa? how zat?