Obrolan Tempat Cukur

Mei 14, 2008

Seperti biasa, cuaca Jakarta tengah hari panas menyengat. Beberapa orang terlihat duduk bermalasan di sebuah tempat cukur. Seorang pelanggan duduk terkantuk sementara si tukang cukur, yang sepertinya hanya tahu satu model rambut: pendek, asyik membabat rambutnya.

Obrolan si tukang cukur dan teman-temannya, yang datang dan pergi silih berganti, menarik perhatiannya. Kantuk pun hilang dan kedua telinga difungsikan sepenuhnya.

Pembicaraan berputar ke kejadian sehari-hari. Wajar, tak ada yang istimewa. Namun tidak untuk telinga yang biasa hidup dalam kenyamanan.

Nomor buntut yang keluar, ribut-ribut antar anak tongkrongan, si anu yang kena ‘garuk’ polisi, si anu yang ‘berkhianat’ dengan ‘bernyanyi’ di depan polisi, sampai bagaimana anak sebelah meniduri seorang gadis setelah mencampur minumannya dengan obat.

Ah, memang itu aneh? Bukannya itu potret asli masyarakat kita (bisa dibuktikan juga metadata nya kalau perlu :p)? Lihat saja berita kriminal di televisi dan koran tak pernah kehabisan bahan.

Kita saja yang lebih suka menutup mata, telinga dan hati. Toh selama tidak menyangkut kepentingan pribadi, semua bisa dianggap angin lalu. Sudahlah tak perlu dibesar-besarkan.
Kurang lebih seperti itulah tanggapan yang sering ia dengar.

Tak terasa, rambutnya telah selesai dicukur. Kekhawatirannya pun terwujud, potongannya terlalu pendek. Tahu protes apa pun percuma, ia pun membayar dan kemudian berjalan pulang. Tak lama, apa yang ia dengar menghilang begitu saja dari benaknya. Toh itu urusan orang lain bukan?

Uh, sudahkah disebutkan bahwa siang itu panas terasa menyengat?

Entry Filed under: Daily Life, Idle Talk. Tag: , , .

5 Comments Add your own

  • 1. zidni  |  Mei 14, 2008 at 3:11 pm

    ini tentang apa sih ta?
    trus perasaan SDSB udah nggak ada deh

    Balas
  • 2. christiono  |  Mei 14, 2008 at 4:51 pm

    @zidni, masih ada togel,

    cukur di mana ta?

    :( ceritanya serem juga, tapi memang itulah potret masyarakat kita, ayo kita bawa perubahan.

    Balas
  • 3. Adityo Ananta  |  Mei 14, 2008 at 5:08 pm

    ya togel / judi ’swasta’ masih ada di mana2
    selama ini mungkin kita beruntung pergaulannya tidak seperti itu, jadinya ya seperti pak zidni ini, polos :)

    di mana? dekat kost :p
    tempat yang ‘damai’ seperti itu saja begitu :(

    Balas
  • 4. Lye  |  Juni 21, 2008 at 11:54 am

    gak jelazxtttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt…..
    cuapexxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx gw bca’a

    Balas
  • 5. winy  |  Maret 18, 2009 at 1:18 pm

    sering ngerasa gitu juga kalo lagi di angkot, bis, atau warung makan ujung pasar…. dengerinnya aja capek, mikirinnya bikin capek juga, what can we do to make it better…..

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

Member of

BlogFam Community

Judge Me!

Say what you like about me :)
Positive
Negative

Random Post

My Archives

Tulisan Terakhir

Recent Comments

gilang di Filateli, Sebuah Hobi
adit di Lord of The Ring
RussianGurman di Pesta Blogger 2007
Gram di Buta Warna
evan di Da Jang Geum
steangele di Trying to Posting Google …
nas di Buta Warna
nas di Buta Warna
nas di Buta Warna
nas di Buta Warna

RSS Stochastic Manga

My del.icio.us Link

Meta

Other Feeds

Powered by FeedBurner

Subscribe in Bloglines