Kesempatan Kedua

Februari 19, 2011 at 12:21 pm Tinggalkan komentar

Hujan turun. Deras. Deru hujan selalu merupakan melodi alam yang indah di telinga ku. Dialog malam sebelumnya serasa tidak nyata. Diringi irama hujan, tebersit senyuman.

***

Hidup adalah pilihan, yang kadang berakhir dengan penyesalan. Serangkaian peristiwa seakan mengarahkan untuk memperbaiki salah satu nya. Hal yang seharusnya ku lakukan sejak dulu, tapi ku selalu mencari-cari pembenaran untuk menghindarinya. Tapi hidup dengan perasaan bersalah, meninggalkan sesuatu tidak terselesaikan dengan baik layaknya pengecut sejati, ku tidak mau seperti itu. Artinya suatu waktu memang harus dilakukan. Tak terhindarkan.

Rencana disusun, kata-kata disiapkan, mencari pengalihan agar tidak terlalu banyak berpikir. Hari itu tiba, ragu dan takut seperti diduga sudah menanti untuk menghadang. Saat seperti ini biasanya ku membuat kondisi yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum ku maju. Kondisi yang sulit untuk dipenuhi, sehingga bisa menjadi alasan, meski sadar tidak ada hubungannya sama sekali.

Dan kondisi tersebut ternyata gagal dicapai. Ketika kekecewaan yang muncul, ku sadar artinya ku benar-benar ingin melakukannya. Tidak ada lagi opsi mundur kalau begitu. Ku hanya berani berharap, setidaknya kerusakan yang kuperbuat bisa diperbaiki, tak lebih. Terwujud atau tidak, masing-masing memiliki konsekuensi. Itulah harga yang harus dibayar.

Dan…

Tak lama, segala kekhawatiran itu pun sirna.

Kesempatan kedua. Awal yang bersih. Tantangan untuk tidak mengacaukannya kembali. Semoga.

***

Sang pemimpi mempunyai harapan. Mempertanyakan mengapa kadang berarti harus berkutat di perbatasan irasionalitas, dan jawaban yang memuaskan mungkin tak akan ada.

Sang pemimpi memiliki keraguan dan rasa takut. Ragu apa ia layak berharap. Takut akan kekecewaan ketika harapan tidak berbuah.

Ada kalanya ketika sang pemimpi menemui jalan buntu. Untuk membuang asa itu, ia tidak mampu, maka disimpanlah dibalik sebuah pintu yang tertutup rapat. Meski tak terlihat, ia tahu ada di sana. Meski tak terlihat, tetap menoreh luka. Lalu mengapa? Keengganan membuangnya berbicara dengan sendirinya.

Namun, bila memang harus terjadi maka terjadi. Pintu itu pun dapat kembali terbuka.

Entry filed under: personal, Thought. Tags: .

2010 dalam untaian kata Pendulum

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 247,804 hits

Member of

BlogFam Community

Judge Me!

Say what you like about me :)
Positive
Negative

Random Post

My Archives

Tulisan Terkini

Twitter

My del.icio.us Link

Other Feeds

Powered by FeedBurner

Subscribe in Bloglines


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.