syukur

Setiap kali membaca tulisan, atau mendengar orang yang mengeluhkan mengenai buruknya akhlak bangsa kita, aku jadi tertegun. Benarkah kita hanya bisa mengeluhkannya saja? (Kalimat ini sendiri juga termasuk mengeluh :)). Sering berpikir, apa ya sebab kerendahan akhlak bangsa ini? Apalagi ditambah paradoks bahwa kita sendiri tahu bahwa perbuatan kita itu buruk, salah, melanggar aturan, dsb. Tapi tidak ada keinginan untuk mengubahnya. Justru dijadikan alasan bila suatu ketika melakukan perbuatan tidak terpuji (dalam skala yang sangat kecil sekalipun).

Nasihat dari salah seorang yang kuhormati dan percayai, membuatku sedikit terkejut dan sadar. Ternyata kunci permasalahannya sangat sederhana sekali. Syukur. Lho, apa hubungan akhlak dan syukur? Ternyata ada, dan bisa dirangkum menjadi satu kalimat : “Dari syukur lahirlah ketaatan, dan dari ketaatan lahirlah akhlak“.


Seseorang yang bersyukur berarti dia menyadari hakikat dirinya, dan menyadari sepenuhnya akan kehadiran Allah. Sebagai wujud dari syukur itu, dirinya akan berusaha sepenuh hatinya untuk menjalankan semua perintah-Nya. Dalam beribadah, dan dalam bermuamalah dengan sesama. Timbullah ketaatan dalam dirinya. Kemudian pada akhirnya, karena segala tindakannya berada dalam bingkai ketaatan, maka perilakunya pun dengan sendirinya menjadi baik. Timbullah akhlak yang baik. Sesederhana itu.

Benarkah kita kurang bersyukur? Aku sendiri sering merasa malu, karena teringat bahwa diri kurang bersyukur dengan apa yang ada, dan sering menyesali kekurangan yang ada. Tidak menyadari bahwa telah begitu banyak yang telah kita peroleh. Mensyukuri apa yang dimiliki saja belum, tapi mengharapkan lebih😦.
Bangsa kita sendiri diberi banyak anugrah. Tapi kita sering menyesali ketertinggalan kita dibanding bangsa lain tanpa melakukan perubahan berarti. Ironis, padahal kita adalah bangsa muslim. Bangsa muslim yang belum (cukup) bersyukur.

Jadi, sudahkan anda bersyukur hari ini?