Tepat atau tidaknya langkah pemerintah mengimpor beras dari Vietnam ditentukan paling tidak oleh 2 hal (hasil baca koran :)), yaitu berapa sebenarnya stok beras Bulog dan apakah saat ini adalah musim panen atau musim paceklik bagi petani. Jika stok beras tipis, dan sekarang bukan musim panen, maka mau tidak mau memang harus mengimpor beras. Sedangkan masalah petani dirugikan karena harga beras akan turun hanya berlaku bila sekarang adalah musim panen. Bila sekarang adalah musim paceklik, para petani beralih dari produsen menjadi konsumen, sehingga bila harga beras turun akan cukup membantu mereka.

Anehnya, pihak pro dan kontra impor beras tetap ngotot dengan pendiriannya masing-masing. Apa mereka benar-benar punya data yang akurat? Atau hanya demi kepentingan politik? Kalau mereka punya data, kenapa tidak dibeberkan saja kepada publik? Well, that’s politics for you :p.

Voting kemarin di DPR, hanya merupakan salah satu episode sinetron politik. Pihak yang semula ngotot dengan hak angket, tiba-tiba beberapa fraksi banting stir, mereka memilih hak interpelasi bukan hak angket seperti yang sebelumnya disepakati. Mereka tetap memilih mengajukan hak interpelasi padahal mereka pasti tahu pasti kalau suara mereka terpecah 2, tidak mungkin dapat mengalahkan suara gabungan Fraksi Golkar dan PD😦. Kali ini setuju dengan kata salah satu wakil dari PDIP, bahwa semua dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan.

Ajaibnya, tiba-tiba pemerintah mengatakan akan menjelaskan mengenai langkah impor beras, setelah sidang DPR selesai -_-? Kalau memang dari awal mau menjelaskan, maka tidak perlu ada ribut-ribut di DPR mengenai hak angket kan? Hmm, skenario untuk ‘makan’ uang sidang? Mudah-mudahan tidak. Paling tidak mudah-mudahan tidak semua fraksi.

Sekarang, tentang lain hal tapi yang berhubungan. Kalau DPR memang benar-benar peduli nasib petani, kenapa baru ribut ketika kasus yang terjadi memiliki celah untuk ‘menjegal’ pemerintah? Pertanyaan retorik sepertinya😀. Banyak kasus lain yang merugikan petani tapi kurang mendapat perhatian. Harga pupuk mahal, kekeringan, penyuluhan, bantuan modal, dan banyak hal lain yang menyengsarakan petani. Belum lagi ulah spekulan yang menimbun stok dan mempermainkan harga. Membeli dengan harga semurah-murahnya pada saat musim panen, dan menjual semahal-mahalnya pada musim paceklik.

Ack, sudahlah. Ini tidak akan ada habisnya. Kurang bermanfaat memang kalau hanya menulis di blog tanpa ada langkah nyata. Muak dengan politik? Itu pasti. Tapi untuk mengadakan perubahan mau tidak mau memang harus lewat jalur politik juga. Jalur yang dapat mengubah aktivis menjadi badut politik :p.

~hanya2rupiahku