Gambar
Kalau menduga bahwa posting ini berkisar tentang karikatur yang dimuat di halaman 3 sebuah harian Denmark Jyllands Posten, anda benar. Yap, itu merupakan penghinaan yang keterlaluan. Menggambar dan mengatakan itu adalah Rasulullah saw. saja sudah dilarang, apalagi bila dimaksudkan untuk menghina. Tapi …. — sorry to say, dan bukan bermaksud untuk mengecilkan masalah atau tidak peduli, karena saya bukan orang seperti Ulil atau Gus Dur — gambar-gambar semacam itu bukan satu-satunya, bukan yang pertama, dan bukan yang paling keterlaluan. Tidak percaya? Silakan minta pertolongan Mbah Google. Jangan terkejut melihat jumlah hasil pencariannya.

Yang menjadi perhatianku sekarang adalah reaksi ‘berlebihan’ dari masyarakat. Aksi-aksi protes oleh berbagai kalangan dan organisasi. Seakan kalau tidak ikut mengadakan aksi protes, kelompoknya akan kehilangan muka. Aksi protes tersebut dibarengi juga dengan aksi perusakan yang tidak perlu. Dan juga aksi boikot produk Denmark. Well, kalau ini bukan produk manipulasi apa lagi?

Manipulasi dan Simple-Minded Person

Aksi-aksi itu jelas ditumpangi. Ada beberapa motif di baliknya. Seperti mengalihkan perhatian dari berita lain (misal: kemenangan Hamas), atau pun skenario besar untuk makin memperburuk citra Islam. Buktinya? Pertama, gambar tersebut dimuat pada tanggal 30 September 2005, kenapa baru belakangan ini ramai beritanya? Kedua, seperti kusiratkan di atas, bahwa hal seperti ini sayangnya sudah jamak di internet. Kenapa hanya kasus ini saja yang bisa sampai ramai seperti ini?
Yah, sebagian orang memang sangat mudah untuk dimanipulasi. Mereka adalah orang yang berpikiran sederhana (simple-minded). Orang seperti ini biasanya akan mudah percaya pada suatu berita. Terutama bila yang menyampaikan adalah orang yang ia percaya, lebih gawat lagi bila orang yang ia pecaya itu juga simple-minded😦. Dan isu yang mudah membuat orang seperti itu terpancing adalah hal-hal yang sangat ia junjung. Bila nilai kelompok yang ia junjung maka ia akan mudah terpancing oleh isu yang menjelekkan kelompoknya. Yap, paling mudah memang memancing orang dengan isu SARA. Kalau sudah terpancing, biasanya ia tidak akan mau repot lagi untuk mengecek kebenarannya atau mencoba berpikir jernih.

Aksi-aksi protes itu memang tidak salah. Malah kita memang sudah seharusnya menyuarakan kemarahan kita soal ini. Tapi, melakukan perusakan, sweeping warga Denmark, serta memboikot produk Denmark itu seharusnya tidak perlu dilakukan. Pemerintah Denmark sendiri sudah meminta maaf, entah tulus atau tidak bukan kita yang bisa menilai, walau sebetulnya itu adalah tanggung jawab dari redaksi koran tersebut. Kenapa orang-orang yang tidak berkaitan harus menuai akibatnya juga? Kita sendiri juga tidak mau kan bila disamakan dengan para ‘teroris’? Dan ironisnya, banyak aksi-aksi protes yang masih menuntut pemerintah Denmark meminta maaf. Apa mereka tidak mengikuti berita? Sepertinya tidak😦.

Yang lebih penting

Manipulasi atau tidak, silakan nilai sendiri, masih banyak hal lain yang lebih mendesak dan penting untuk diperhatikan. Sekali lagi kutegaskan, ini bukan berarti aku menganggap masalah ini kecil dan tidak penting. Masalah Palestina lebih penting untuk kita perhatikan. Nasib muslim Irak dan Afganistan lebih penting untuk kita perhatikan. Ancaman AS untuk menyerang (yap same scenario) Iran lebih penting untuk kita perhatikan. Ini cuma contoh kecil.

Kalau masalah penghinaan, ini juga hanya puncak dari gunung es permasalahan. Kita menghabiskan energi dan waktu untuk masalah ini, tapi di lain hal kita diam saja ketika nilai-nilai Islam mulai hilang di sekitar kita, atau bahkan dari diri kita😦. Kita marah orang lain menjelekkan agama kita, tapi kita sendiri memperburuk citra agama kita dengan perilaku kita yang bejat dan mengaku-aku sebagai seorang muslim sejati.

Tambahan: Tentang larangan menggambar Nabi

Oh ya, mungkin ada yang penasaran, apa sih dasar pelarangan menggambar Nabi? Berikut kutipan dari syariahonline soal menggambar Nabi:
“Menggambar Nabi dan Para Shahabat
Para ulama sepakat bahwa Rasulullah SAW tidak boleh digambar. Begitu juga dengan para shahabat yang mulia itu. Karena menggambar sosok seseorang termasuk Rasulullah SAW termasuk perbuatan bid`ah, mengingat bahwa sosok Rasulullah SAW itu sangat terkait dengan syairat Islam. Apapun yang dikatakan, dilakukan dan termasuk apa yang ada pada diri beliau sangat mempengaruhi syariat Islam. Dan untuk memastikan apa benar suatu perkataan, perbuatan atau sosok seseorang memang adalah Rasulullah SAW, harus disampaikan secara benar, jujur dan dengan sanad yang bersambung.

Misalnya perkataan beliau yang tercantum dalam hadits, maka baru bisa dibenarkan manakala telah dilakukan kritik hadits oleh para ulama muhadditsin khususnya. Bila tidak, maka menisbahkan sebuah perkataan kepada Rasulullah SAW padahal beliau tidak mengatakannya termasuk perbuatan yang diancam dengan api neraka. Karen memalsu hadits beliau. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa yang berbohong atasku secara sengaja, hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”.

Dan menggambar sosok manusia lalu dikatakan bahwa orang ini adalah Rasulullah SAW, maka termasuk berbohong, karena penggambar itu sama sekali belum pernah melihat wajahnya. Dan selama Rasulullah SAW hidup, tidak ada seorang pun yang dari penggambar yang pernah menggambar wajah beliau. Dengan demikian, kalau ada orang menggambar Rasulullah SAW, maka bisa dipastikan itu adalah gambar bohong.

Lalu bagaimana dengan gambar para nabi dan juga shahabat ? Para ulama umumnya juga menghukumi hal yang sama seperti pada hukum menggambar Rasulullah SAW. Karena para nabi dan shahabat itu pun tidak pernah ada yang menggambarnya di masa mereka hidup, padahal apapun yang terkait dengan seorang nabi dan shahabat, pastilah sangat berpengaruh dengan syariat itu sendiri, karena dari sanalah syariat itu bersumber.

Jadi kami cenderung untuk mengatakan bahwa menggambar para nabi dan shahabat pun termasuk perbuatan yang diharamkan dalam syariat. Lepas dari hukum menggambar makhluk hidup yang juga menjadi khilaf dilakangan ulama. ”