Kepenatan perjalanan dan tumpukan beban pikiran, membuat suasana hati kebanyakan orang menjadi buruk. Apa itu penyebab perilaku egois di angkutan umum? Hmm, kupikir meluangkan sedikit tempat di hati untuk berempati adalah hal yang patut dilakukan setiap saat.

Banyak contoh dalam keseharian. Sebuah angkutan yang ngetem kaya akan contoh🙂. 

  • Enggan bergeser untuk memberi ruang untuk penumpang lain.
  • Memaksa duduk di dekat pintu, tapi enggan memberi jalan untuk penumpang lain yang naik turun, bahkan kadang dia justru turun belakangan😦.
  • Formasi "4-6-2-2" (4 di kiri, 6 di kanan, 2 di tengah, 2 di depan ;)) seharusnya sudah jadi pengetahuan umum, dan angkutan yang ngetem tidak akan jalan sebelum semua tempat terisi. Sebagian orang biasanya akan ribut protes kepada supir untuk segera menjalankan angkutan meski ia tahu angkutan terebut belum penuh.
  • Untuk poin di atas, supir juga bisa disebut egois jika membiarkan penumpang menunggu terlalu lama, padahal hanya kurang 1 orang saja. (Bisa paham sih alasannya, karena kadang ia sudah menunggu giliran cukup lama, bisa hitungan jam -_-!).
  • Ada angkutan yang ngetem dan tidak. Naik yang ngetem padahal hanya untuk jarak dekat –> merugikan supir karena tentu ia mengharapkan penumpang jarak menengah ke atas karena ongkosnya lebih besar.
  • Bayar tidak sesuai tarif. Hei, supir juga punya keluarga yang harus ia hidupi -_-. Lebih parah lagi kalau digabung dengan poin sebelumnya.

Yah itu dulu. Dari contoh satu kasus saja bisa banyak kejadiannya. Menyedihkan😦

~orangyangtiaphariharusnaikangkotyangngetem