Walau tingkat kelulusan UN tahun ini meningkat dibanding tahun lalu, ketidakpuasan masih tetap ada. Kalau masalahnya adalah penyelenggaraannya yang ‘berantakan’, atau ada penyimpangan (baca korupsi dan kawan-kawan), menurutku sih wajar saja. Ajaibnya ada yang protes karena tidak lulus -_-`.

Hmm, manfaat dari UN konon hanya sebatas peningkatan kualitas sekolah, sedang bagi siswa sendiri tidak ada. Katanya bukan gambaran kemampuan sang siswa, karena bisa saja pada saat ujian dia sedang tidak sehat atau banyak alasan lain. Untuk hal ini aku tidak mau komentar.

Tapi untuk hal protes karena tidak lulus itu aneh. Kalau alasannya standarnya terlalu tinggi dan tiap sekolah berbeda, berarti selamanya ingin mempertahankan gap kualitas antar sekolah. Sekolah tidak akan terpacu meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Lagi pula bukankah batas kelulusan itu 4,50? Hmm, dulu dapat nilai 5,9 saja sudah dianggap jelek😦. Dan juga, bukankah itu berarti menunjukkan rendahnya kualitas suatu sekolah bila siswanya banyak yang tidak lulus?

Kalau masalah tidak adil bagi siswa, seharusnya hal ini jadi motivasi mereka untuk bersungguh-sungguh. Bahwa sesuatu itu harus diperoleh dengan usaha. Ada siswa cerdas yang ‘sial’, sehingga tidak lulus? Well, itu kenyataan hidup yang pahit memang. Hal buruk terjadi hanya karena satu kesalahan. Setiap orang pasti pernah mengalami hal seperti itu. aku pun pernah (detil rahasia :p).

Yah sudahlah. Sebetulnya hanya ingin menyatakan keheranan tentang mereka yang protes karena tidak lulus. Baik dari pihak siswa, orang tua dan juga sekolah. Tapi jadi kemana-mana🙂. Maaf juga kalau terlalu tendensius, mood sedang jelek. He he alasan😉.