Sebuah ironi, kadang sebab utama dari suatu masalah adalah diri sendiri. Hal yang mungkin disadari, namun tertutupi oleh penyangkalan diri. Penolakan untuk mengakui bahwa diri sendiri memiliki andil kesalahan. Bahwa diri sendirilah yang menyeretnya ke penderitaan fisik, mental dan pikiran tersebut.

Seseorang harus mengalahkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum bisa melakukan hal lain dengan baik. Menjadi tuan bukan pesuruh atas diri sendiri. Meski kecil, suatu penurutan akan hawa nafsu yang perlahan berubah menjadi kebiasaan, perlahan akan membawa ke penurutan hawa nafsu lain yang lebih besar dan membentuk mental negatif. Sebaliknya, keberhasilan untuk mengatasinya akan membawa kepada ‘kemenangan’ psikologis.

Sebagai contoh, kebiasaan bangun pada pagi hari. Alarm telah membuat terbangun, namun memilih untuk melanjutkan tidur ‘sebentar’ lagi. Kemudian tidak jarang akhirnya justru terlambat untuk bangun dan akhirnya persiapan pagi hari pun dilakukan terburu-buru dan tidak tenang. Hari itu pun dimulai dengan perasaan negatif dan kemudian akan terus terbawa
hingga hari itu berakhir, dan tentu mempengaruhi aktifitas keseharian.

Perlahan, melatih diri untuk disiplin pada diri sendiri. ‘Mencontek’ dari yang sering dikatakan oleh Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Setelah berhasil mejadi tuan akan diri sendiri, setelah berhasil mengatasi hambatan internal, barulah kemudian hari-hari jadi lebih mudah.

Seperti itulah seharusnya seorang muslim bersikap. Mulai dari kewajiban sebagai seorang hamba, yaitu beribadah. Sudahkah mendirikan (bukan melaksanakan) shalat dengan kesungguhan? Menjadikan shalat sebagai suatu kebutuhan dan bukan beban. Atau bahkan, sudah tertibkah dalam menjalankan shalat? Lalu bagaimana pula dengan ibadah lain, baik yang wajib maupun tidak? Karena itulah ‘bahan bakar’ seorang muslim. Tanpanya hati akan terasa hampa.