Bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran, tingkat konsumsi masyarakat meningkat – walau sama sekali bukan hal yang dianjurkan. Konsumsi daging sapi adalah salah satu yang ikut meningkat. Situasi ini lagi-lagi dimanfaatkan oleh orang-orang yang dibutakan oleh keuntungan.

Daging oplosan adalah daging sapi yang dicampur dengan daging celeng atau babi hutan. Tujuannya jelas memperoleh keuntungan lebih, dengan cara menipu konsumen yang tidak waspada. Keharaman daging yang dijual pun tidak dipertimbangkan lagi.

Daging glonggongan adalah daging yang memiliki kadar air tinggi. Apa yang salah dengan itu? Daging tersebut diperoleh dari sapi yang sebelum disembelih, dimasukkan air yang banyak.

Kata ‘dimasukkan’ di sini adalah dalam arti sebenarnya. Selang dimasukkan ke dalam perut sapi melalui mulutnya. Kemudian air dipompakan ke dalam sapi tersebut! Bisa dibayangkan seberapa keji perbuatan ini. Tak jarang sapi tersebut sudah mati sebelum disembelih. Tujuannya? Agar berat sapi bertambah! Pertambahan berat bisa mencapai kira-kira 10% dari berat sapi. Berat bertambah, untung ikut bertambah. Hukum daging ini adalah haram, bahakn MUI pun telah mengeluarkan fatwa untuk menegaskannya.

Mencari untung, namun tidak membawa keberkahan. Kenikmatan sesaat itu hanya akan membawa ke dalam kesengsaraan, di dunia dan di akhirat. Demi keluarga, begitu alasan mereka umumnya. Tapi menafkahi keluarga dengan harta haram?