A Stone in My Hand – Sebuah Pesan Cinta
Cathryn Clinton

Kota Gaza tahun 1988, 1 tahun setelah gerakan Intifadha pertama meletus di Palestina. Malaak, gadis kecil dari sebuah keluarga yang tidak mau terlibat dalam konflik. Mereka beranggapan rasa aman dapat mereka peroleh jika mereka tidak ‘melawan’ Israel, dan terus menantikan kedamaian tiba kembali. Keluarga tersebut, merasakan pula dampak dari agresi Israel. Terutama di bidang ekonomi.

Sang Ayah memutuskan untuk mencari kerja di Israel, namun tidak pernah kembali. Dipenjara tanpa sebab jelas, atau bahkan terbunuh. Jiwa Malaak terguncang karenanya. Menghabiskan waktu di atas atap rumahnya ditemani seekor burung, terus menanti kepulangan sang Ayah. Sementara Hamid, kakak laki-laki Malaak diam-diam bergabung dengan salah satu faksi garis keras. Sang Ibu dan kakak perempuannya, Hend, melarangnya. Hamid tetap pada pendiriannya, karena menurutnya itulah jalannya.

Apa bedanya melawan atau tidak, bila tak melakukan apa pun tetap menjadi korban? Rasa aman apa yang diharapkan dari keadaan itu? Sementara itu, hak-hak mereka terus dirampas dan harga diri mereka diinjak-injak. Lalu, masa depan apa yang bisa mereka harapkan, dalam keadaan seperti itu?

***

Novel pendek ini memberi sedikit gambaran mengenai penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina. Namun cukup untuk membuat tertegun. Betapa bisa hal tersebut dibiarkan saja terjadi?