Pengaruh budaya individualistis kah? Atau faktor-faktor lain? Hingga kini seseorang makin acuh terhadap yang lain. Beban pribadi sudah terlalu berat, mengapa harus ditambah memikirkan orang lain. Begitu alasan yang akan dikemukakan oleh sebagian orang bila ditanya.

Kemalangan, musibah, bencana, penderitaan seakan menjadi tema tetap di media massa. Hal tersebut kemudian seakan menjadi perkara ‘biasa’. Hanya sebatas informasi yang dibaca, didengar atau ditonton di media. Itu dunia lain, bukan duniaku. Bagi yang masih menyisakan sedikit perasaan di hati, mungkin masih tersisa rasa simpati.

Situasi akan berubah, bahkan drastis, ketika kemalangan tersebut menimpa kenalan, apalagi bila ia termasuk orang yang dekat. Tiba-tiba rasa empati itu muncul. Tak percaya pula bahwa hal seperti itu bisa terjadi. Peristiwa yang sehari-hari dianggap ‘biasa’, ‘tidak istimewa’ – karena menimpa orang lain yang tidak dikenal – berubah menjadi besar.

Ada 2 contoh kasus berkaitan dengan ini:

  • Q merasa heran mengapa ketika seseorang terkena suatu penyakit parah, maka ia dan keluarganya begitu tersiksa. Mengapa sebagai orang beriman tidak bertawakal saja? Sebaliknya R, salah satu anggota keluarganya pernah menderita karena suatu penyakit. Ia paham bahwa ia dan keluarganya harus bersabar dan bertawakal. Namun R merasakan bahwa melakukannya tidak semudah mengucapkannya. Bila Q kemudian mengalami hal serupa, mungkin ia baru akan merasakannya.
  • Y memandang berita kriminal, yang setiap harinya tidak pernah kehabisan bahan, sebelah mata saja. Suatu hari, seorang kenalannya menjadi korban kejahatan, dirampok kemudian dibunuh. Setiap kali memikirkan kejadian itu, ia pun bergidik. Membayangkan kalau hal itu terjadi padanya.