Mushola, fasilitas ini cenderung terlupakan dalam pembangunan suatu gedung. Megah dan dan mewahnya suatu gedung ternyata tidak menjamin adanya mushola yang layak. Menyedihkan.

Tidak disediakannya tempat khusus sejak awal perangcangan gedung, menyebabkan pilihan lokasi terbatas. Ruang yang tidak digunakan dialih fungsikan menjadi mushola darurat. Umumnya mushola yang ada bersifat seadanya, sempit dan terletak di tempat yang sulit terjangkau. Lantai bawah tanah atau di pojokan tempat parkir biasanya menjadi lokasi ‘favorit’ pengelola gedung.

Sulitnya mencari dan menjangkau lokasi membuat orang malas. Ketidaknyamanan ruangan (panas, bau) membuat orang enggan. Kapasitas yang tidak memadai kadang memaksa jama’ah untuk antri dan berdesak-desakan.

Memang seharusnya halangan ‘kecil’ seperti itu tidak boleh menyurutkan niat untuk beribadah. Apalagi sholat lima waktu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini memang kembali ke pribadi masing-masing. Tapi pernahkah terpikir, terutama oleh pengelola gedung, bahwa ia turut bertanggung jawab bila ada yang mengurungkan niatnya untuk sholat karena alasan tersebut?

Mungkin seharusnya Pemda, atau instasi lain yang terkait, membuat peraturan yang mewajibkan pengelola gedung untuk menyediakan mushola yang layak dan dengan kapasitas memadai (10-20% jumlah penghuni gedung). Pengelola yang tidak menurut harus diberi sanksi. Bila penganut agama lain menuntut tempat ibadah juga tidak masalah. Itu adalah hak kita sebagai warga negara. Negara yang konon memberi kebebasan untuk beribadah.