Apa yang terlintas di benak ketika melihat pedagang-pedagang kecil, atau pekerja keras lainnya dengan penghasilan tak seberapa? Walau dagangan mereka laku, walau sekeras apa pun mereka berusaha, tapi pendapatan mereka tetap sedikit. Walau sebagian dari mereka dengan strategi yang lebih baik berpotensi untuk lebih sukses, mungkin hal tersebut tak pernah terpikir oleh mereka. Hmm, tapi bukan itu fokus tulisan ku ini.

Ketidakadilan mungkin kata yang terpikir bila melihat kondisi ini. Ketika sebagian orang lain cukup beruntung, tanpa perlu bekerja sekeras mereka, bahkan bisa memilih bidang yang diminati, dapat mengecap kesuksesan. Atau bahkan tanpa perlu melakukan apa pun dapat menikmati kesusksesan yang telah diraih oleh keluarga. Ya, tidak adil jika hanya ‘begitu’ saja.

Diri ku sendiri mungkin tidak masuk ke dalam salah satu golongan tersebut. Berada di tengah-tengah, tapi lebih cenderung ke golongan ‘bawah’🙂. Memang, berada dalam ‘titik ekstrim’ belum pernah kualami. Tapi merasakan bagaimana hidup pada dua keadaan tersebut ku pernah. Secara tidak langsung memang, melalui ‘perantara’ orang yang ku kenal. Sedikit pengalaman itu saja sudah cukup untuk merasakan betapa jauh ‘jarak’ antara keduanya.

Sebetulnya disinilah peran dari golongan ‘beruntung’ tersebut. Yaitu untuk membantu yang lain. Islam mengaturnya dalam suatu konsep sederhana namun jitu, yaitu zakat. Jika berjalan dengan baik ku yakin masalah kemiskinan bisa teratasi. Tentunya bantuan yang diberikan tidak dalam bentuk konsumsi, melainkan modal usaha. Agar kemandirian terpupuk dan tidak sekadar bergantung pada uluran orang lain.

Itu satu hal. Kini soal lain. Hal yang sebetulnya menjadi motivasi ku untuk membuat tulisan ini.Yaitu, bisakah kita benar-benar memahami penderitaan mereka mencari penghidupan ketika kita sendiri justru asyik menikmati kehidupan pribadi kita? Bisakah kita mengatakan bahwa kita mengerti rasa lapr mereka ketika kita sendiri terduduk kenyang? Salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa memahaminya. Tapi … benarkah kita memahaminya bila saat berbuka kita makan dengan sepuasnya, dan ketika Ramadhan berakhir kembali ke semula tanpa meninggalkan sedikit pun ‘bekas’ dari ibadah puasa yang telah dijalankan?

Hal ini sempat beberapa kali terlintas di benak ku. Namun apa yang kualami beberapa hari lalu kembali membuatku tertegun. Saat itu, dalam perjalanan untuk memenuhi ajakan makan siang. Di depan sebuah sekolah terlihat pedagang-pedagang makanan. Seorang teman bertanya, “Berapa ya keuntungan mereka?”. Sedikit, itulah inti jawabannya. Pikiran pun terbawa, dan teringat kembali bahwa banyak yang bernasib seperti itu. Kasihan, itu rasa yang terbersit. Dan muncul kembali keinginan untuk kelak dapat membantu orang-orang seperti itu. Ironisnya adalah ketika tiba di tempat untuk makan siang tersebut. Memang ada promosi potongan harga 75%, namun melihat harga pada menu membuat ku tidak berselera. Membuat ku merasa menjadi seorang munafik.

Kembali teringat pada peristiwa setema beberapa tahun lalu. Ketika itu diadakan acara buka puasa sekaligus reuni. Selain itu, ada rencana untuk mengadakan semacam baksos kecil, dan acara itu juga sekaligus untuk mengumpulkan bantuan. Niat dari pemilik acara memang mulia, dan ku tahu betul ia memang begitu. Tapi tetap saja diriku tidak tenang ketika memikirkan bahwa biaya yang ‘dihabiskan’ untuk malam itu mungkin lebih banyak bila dibandingkan dengan dana untuk baksos tersebut.

Contoh lain lagi, pernah ditayangkan dalam sebuah berita di televisi tentang suatu perkumpulan yang mengadakan acara malam dana. Acara tersebut diadakan di sebuah hotel mewah dan dihadiri puluhan orang. Perkirakan sendiri berapa biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan acara tersebut. Seorang pengurus ketika diwawancarai dengan bangga mengatakan bahwa total sumbangan yang terkumpul adalah 10 juta rupiah! Tak tahu malu >_<.

Ok, kembali ke tema. Jadi, bisakah kita merasakan rasa lapar itu ketika kenyang? Ataukah hanya sekadar ucapan manis di bibir?