Plagiatisme gagal dan vandalisme karya seni

Ichi Rittoru no Namida (1 Litre of Tears), bagi yang pernah menontonnya pasti sepakat bahwa ini adalah film paling mengharukan. Judul, lalu juga istilah tear jerker alias penguras air mata tidak lah berlebihan. Minimal, sebagai efek samping dari menontonnya adalah tenggorokan sakit dan dada sesak🙂. Kisah Ikeuchi Aya, yang diangkat dari kisah nyata Muraki Aya, dalam menghadapi penyakitnya ini memang menyentuh sekali.

Versi sinetron drama ini telah ditayangkan. Keputusan untuk menayangkannya setiap hari, bahkan menggeser sinetron yang sudah ada, menunjukkan bahwa RCTI begitu yakin dengan sinetron barunya itu. Hmm, kalau berbekal nama baik drama aslinya mungkin sih. Tapi bagaimana kenyataannya?

Walau sudah diduga, tapi tetap saja membuat kesal. Sama sekali tidak dicantumkan sinetron ini ‘menjiplak’ dari mana. Melihat deretan pemeran sinetron ini pun membuat kecewa. Tidak meyakinkan. Padahal di versi aslinya, kualitas akting para pemain terutama pemeran Aya dan Ibu nya, adalah kekuatan dari cerita ini.

Cerita ternyata dijiplak habis-habisan tanpa malu. Rentetan adegan yang ada sama persis. Bahkan setting tempat dipaksakan mirip, seperti di Jepang. Tanpa malu pula, dialognya pun ditiru tanpa tanggung-tanggung. Ah, ternyata ciri khas sinetron Indonesia tetap ada. Sesederhana dan semiskin apa pun tokoh dalam cerita, tetap saja rumah dan penampilannya ‘mewah’😀.

Cerita dibuka dan diakhiri, sama seperti versi aslinya, dengan pembacaan diary dari pemeran utama. Hmm, siapa pun yang menulis skrip nya, yang jelas ia gagal mengangkat emosi. Sutradara sinetron ini pun tidak mampu menciptakan suasana mendukung. Padahal untuk episode pertama dari Ichi Rittoru, dua adegan inilah yang paling menyentuh. Ya, dari sini sudah terlihat bahwa sinetron ini sangat menjanjikan. Menjanjikan untuk dimasukkan dalam daftar tontonan tidak bermutu :p.

Membuat suatu tayangan bermutu ternyata memang tidak cukup sekedar meniru tayangan lain yang bagus. Sinetron ini sama sekali tidak memiliki jiwa. Emosi nya datar. Setiap adegan seperti potongan-potongan cerita yang tidak menyatu. Diperburuk lagi dengan kualitas akting para pemerannya. Terutama Chelsea sebagai pemeran Nayla. Aktingnya buruk sekali dan tidak natural. Beginilah bila mereka dipilih berdasarkan penampilan fisik.

Satu lagi hal yang hilang dari sinetron ini. Musik tema dan musik latar dari sinetron ini tidak menyentuh sama sekali. Kalau maksud dari sang penjiplak adalah untuk membuat cerita yang sama ‘mengharukannya’, maka jelas ia telah gagal total.

Episode awal dari sinetron ini kurang lebih ternyata cakupan ceritanya hampir sama dengan episode pertama dari Ichi Rittoru. Kalau benar konsisten, maka dalam waktu 11 hari seharusnya sudah tamat. Tapi sepertinya meragukan. Mengingat kreatifitas produser sinetron yang justru terletak pada pemanjangan cerita yang tidak berhubungan dengan plot utama.

Hal yang luar biasa adalah, di bagian penutup alih-alih menjelaskan sumber jiplakan cerita, justru ditampilkan tulisan bahwa cerita ini adalah fiksi dan kesamaan cerita adalah suatu kebetulan. Yeah right. Tidak bisa komentar apa-apa lagi deh >_<.

Huff …. Sebenarnya banyak hal lain yang ingin kukeluhkan dari sinetron ini. Tapi sepertinya tidak akan ada habisnya ^-^. Buang-buang waktu saja. Sinetron seperti ini merupakan vandalisme. Perusakan dari sebuah karya seni. Sama sekali tidak bisa dibandingkan walau seujung kuku sekali pun. Lebih baik tonton versi aslinya, yaitu Ichi Rittoru no Namida.

~Ditulis sambil setengah menonton sinetron tidak bermutu ini.
~Beberapa waktu lalu sih sebetulnya pada jam-jam ini tayangan yang paling menarik adalah Smackdown dan variannya😀.
~Kembalikan Smackdown! he he ….