IMO, bagaimana seseorang makan menunjukkan sifat asli seseorang. Mungkin karena makan adalah naluri dasar. Menyedihkan melihat seseorang yang kurang menghargai makanan. Apa yang terjadi di suatu acara kondangan adalah contoh bagus.

Kondangan, entah dari mana kata ini berasal. Berbagai hajatan, disederhanakan sebutannya menjadi satu, kondangan. Acara makan-makan pun menjadi bagian tak terpisahkan. Kecuali bila sang empunya hajat mengadakan acaranya pada siang hari bulan Ramadhan ^-^ (baca: pelit).

Umumnya makanan disajikan secara prasmanan. Pilih yang disukai, siapa cepat dia dapat, kemudian pilih tempat yang nyaman. Hal yang mengherankan adalah, meski hidangan diatur secara rapi, jenisnya pun tidak sedikit, tapi aspek pengaturan pengambilan makanan selalu kurang atau bahkan tidak diperhatikan.

Bila jumlah undangan tidak banyak, atau ruangan cukup lapang mungkin tidak terlalu masalah. Tapi ketika jumlah undangan cukup banyak, urusan mengambil makanan bisa menjadi suatu kekacauan. Saling bersilang jalan, bahkan ada yang bingung mau mampir ke meja yang mana dulu. Tidak ada bedanya dengan keadaan lalu lintas pada jam sibuk. Mau bergerak saja susah. Karena masing-masing sibuk dengan ‘targetnya’ dan takut kehabisan. Keadaan diperparah lagi dengan orang-orang yang begitu selesai mengambil makanan dengan tanpa dosa berdiri menghalangi jalan dan dengan tenang menyantap hidangan yang baru ia ambil.

Praktek ‘calo’ pun tak jarang terjadi. Ketika tiba gilirannya, ia tidak hanya mengambil untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain yang tidak ikut mengantri. Sementara orang dibelakangnya hanya bisa melotot kesal saja. Ada pula yang tanpa malu memotong antrean.

Selesai makan, kekacauan lain muncul. Piring dan gelas bekas bergelatakan di mana saja bekas pemakainya suka. Merusak pemandangan? Siapa peduli, mungkin begitu pikirnya. Sisa makanan yang masih menumpuk di piring ternyata bukan halangan untuk menyudahi santapan. Kenapa mengambil makanan lebih banyak dari yang bisa dihabiskan sepertinya merupakan misteri.

Hmm, dandanan rapi, pakaian bagus dan sikap yang dijaga ternyata tidak menjamin perilaku makan yang beradab pula. Suatu kebiasaan yang ditumbuhkan dan diasah dari semakin banyaknya kondangan yang dihadiri sepertinya :p.

Ok, mungkin itu kembali ke individu masing-masing. Tapi pemilik hajat seharusnya berusaha meminimalisirnya. Mulai dari mengatur peletakan meja, agar tidak saling berdekatan. Mengatur peletakan hidangan agar para undangan dapat tertib mengantri. Yah mungkin kedengarannya tidak semudah mengatakannya, apalagi bila ruangan yang ada terbatas. Setidaknya ada usaha untuk itu.

Soal piring dan gelas bekas, lebih baik bila ada tempat ‘resmi’ peletakannya. Para undangan dianjurkan untuk meletakkannya di sana. Kalau perlu ada petugas (katering) yang siap menerimanya. Sehingga piring dan gelas bekas pakai tidak merusak pemandangan. Kesan jorok pun bisa dihindari.

Soal sisa makanan berlimpah, mungkin tidak ada yang bisa dilakukan pemilik acara untuk mengatasinya. Tak habis pikir tentang orang-orang seperti ini. Bagaimana mereka bisa menyia-nyiakan makanan. Mungkin mereka perlu merasakan bagaimana menderitanya kelaparan.