Kapan ya terakhir kali ku benar-benar berlibur? Duh sudah tidak ingat lagi. Seringnya hari libur lebih ku maknai dengan istirahat sepuasnya di rumah🙂. Jadi, ketika ada rencana untuk jalan-jalan, terlebih ke luar kota, I’m really looking forward to it. Rencana awal kita akan ke Ciwidey, tapi akhirnya diputuskan untuk ke Gunung Halimun. Tidak masalah. Ah, yang penting wisata alam, sudah bosan melihat orang terus ^-^.

Perjalanan dimulai Kamis malam, 5 April, selepas pulang kantor. Target berangkat pukul sekitar pukul 7 malam, tapi akhirnya rombongan berjumlah 15 orang sekitar pukul 8 barulah meluncur ke tujuan pertama, Bogor. Lho, Bogor? Ya, kita akan menginap di rumah tour guide untuk wisata kita kali ini. Besok paginya barulah kita menuju ke Gunung Halimun.

Berputar-putar sebentar di Jakarta, kemudian berputar-putar sebentar juga di Bogor. Melewati jalan yang tidak yakin bakal bisa kuingat (sang pemandu memang hobi membuat orang lain bingung akan jalan menuju rumahnya ^-^), akhirnya sekitar pukul 10 kita tiba juga.

Hmm, what a very kind and warm family, yup as expected. Sepertinya tidak ada tempat ‘menumpang’ yang lebih baik lagi😀.

Menyantap makan malam yang sudah disiapkan, lalu mengobrol tak jelas juntrungannya. Padahal malam sudah semakin larut dan besok harus berangkat pagi-pagi, ya namanya juga anak muda (wups beberapa sudah tidak muda lagi hehe ….). Ku sendiri pun baru terlelap pukul 2 pagi.

Tidur telat bukan alasan bagiku untuk bangun siang. Jadi pukul setengah lima ku bangun dan menguasai kamar mandi🙂. Setelah selesai barulah membangunkan yang lain. Strategi ku kalau acara menginap bareng supaya tidak perlu antri kamar mandi.

Sarapan pun disiapkan oleh tuan rumah. Bahkan bekal untuk makan siang juga ada. Kalau begitu lain kali kalau mau jalan-jalan lagi, mampir dulu di sini he he … Pukul 8 lewat kita pun berangkat (rencana awal pukul setengah 8).

Lancar? Tidak juga, tiba-tiba ada keadaan ‘darurat’. Side quest dari wisata kita pun dimulai, yaitu wisata toilet🙂. Toilet KRB pun jadi sasaran. Akhirnya kita baru benar-benar keluar dari Bogor pukul setengah 10 kurang.

Jalanan macet di beberapa titik, terutama daerah pasar. Maklum libur panjang. Kendaraan berpelat Jakarta pun bisa dilihat di mana-mana. Dan …. tiba-tiba ‘alam’ kembali memanggil. Sekarang orang yang lain lagi. Di tengah-tengah kemacetan lagi, di Cimalati. Wisata toilet II: Cimalati🙂.

Kita mengambil jalur selatan untuk menuju Gunung Halimun, melalui Parung Kuda. Dari pertigaan di daerah Parung Kuda ada petunjuk bahwa Taman Nasional Gunung Halimun tinggal 29 km lagi.

Hmm, belum-belum pemandangan yang tersaji sudah cukup hijau dan segar (kaya sayur aja). Ah papan petunjuk berikutnya. Apa masih 23 km? Rasanya sudah cukup jauh, ya sudahlah. Rute pun makin berkelok-kelok, naik dan turun. Lama-lama mual juga. Ah ada papan lagi. 19,5 km lagi? Dari tadi baru segitu? Duh makin tidak sabar saja. 15 km, 10 km … Cuaca pun sepertinya makin tak bersahabat. Tak lama lagi pasti akan hujan. Yah namanya juga Gunung ‘Halimun’.

Setidaknya mata sangat terhibur dengan pemandangan yang terhampar. Ekstasi untuk mata yang setiap hari memelototi layar monitor. Heran juga sih dengan air sungainya yang coklat. Padahal ini daerah pegunungan. Mungkin karena ada pabrik di atas sana? Tak tahulah.

Kita pun menjadi saksi perusakan alam. Pembalakan liar, penambangan batu kali, padahal di situ adalah daerah kekuasaan DepHut. Hiks, sedih.

Waktu sholat Jum’at pun makin dekat, sementara peradaban semakin jarang. Khawatir juga sampai di sana tidak ada mesjid. Worst case nya, kita harus balik turun mencari mesjid, atau tidak sholat Jum’at sama sekali. Akhirnya setelah sekitar 45 menit (dari tanda 29 km) kita tiba juga. Hore …. Hmm, pengunjung harap lapor? Ya sudah lapor saja.

Kok sepi ya? Ah ada ‘penunggu’ nya satu orang. Ooo … ini baru pintu masuknya tho. Apa masih 18 km lagi sebelum ke tempat wisatanya? 4 km jalan aspal sisanya jalan batu-batu . Kira-kira 1,5 jam untuk menempuhnya. Duh langsung lemas deh.

Ya sudah yang penting sekarang sholat Jum’at dulu. Alhamdulillah ada mesjid tak jauh dari situ. Berpayung ria menembus hujan yang turun dengan deras. Ah sholat Jum’at baru dimulai, baguslah. Khutbah dibawakan dengan bahasa Sunda. Apa ya? Nda ngerti. Tak sampai 15 menit prosesi sholat Jum’at pun selesai. Cepat euy.

Setelah makan siang, rencana selanjutnya dibicarakan. Akhirnya karena tidak memungkin untuk terus memaksa naik ke atas, kita putuskan untuk kembali saja. Agar tidak sia-sia kita akan mampir di Lido. Baru kemudian memuaskan nafsu belanja sebagian orang di Tajur. (Karena inilah maka posting ini berjudul ‘Menuju Halimun, karena kita benar-benar hanya ‘menuju’, hiks …).

Mampir sebentar di tempat penjual Duren karena ada yang ‘ngidam’. Menarik juga bahwa suasana sepi seperti itu ternyata cukup ramai bagi para penjual di situ. Ah ukuran kebahagiaan mereka memang berbeda. Jadi iri dan malu.

Perjalanan turun terasa lebih cepat. Namun hujan yang sempat berhenti kembali turun. Hmm, sepertinya acara ke Lido pun batal. Yup, sampai di daerah Lido hujan masih turun dengan deras.

Ok, jadi lanjut terus ke Tajur. Mampir sebentar untuk mengisi bensin. Sekaligus melakukan Wisata Toilet III🙂.

Tujuan selanjutnya adalah SKI Tajur, toko tas dkk dan restoran sekaligus tempat wisata. Samapai di sana hujan masih turun deras. Mungkin karena itu suasana di dalam toko sangat padat. Kacau malah. Tas-tas dan plastik-plastik pengisi berserakan. Duh apa enaknya seperti ini? Tapi buat yang nafsu belanja sepertinya itu bukan halangan. Ya sudah keluar saja, lihat-lihat kolam, hujan juga sudah berhenti.

Pembangunan kolam-kolam ternyata belum selesai, jadi masih berantakan. Sumber airnya sepertinya langsung dari sungai, jadi airnya coklat dan penuh sampah. Sayang kalau diatur rapi pasti bagus.

Maghrib tiba, mampir untuk sholat dulu di Mesjid Raya Bogor. Kemudian mampir ke tempat oleh-oleh. Seperti biasa ku tidak beli apa-apa (dasar pelit). Beberapa orang pulang duluan dengan bis karena besoknya ada keperluan. Sisanya akan bermalam di Cibinong.

Mungkin karena sudah lelah, suasana di sana pun membosankan. Ku pun tidak minat untuk bergadang. Ya sudah tidur duluan, menguasai kasur he he …

Besoknya sama membosankannya bagiku. Lebih ke acara antri antri kamar mandi. Mungkin karena sebagian besar peserta jalan-jalan ini hampir setiap hari bertemu, jadi tidak terlalu berkesan. Lain kalau ini acara reuni setelah lama tidak berjumpa. Tapi bagiku agak aneh saja, apalagi tak tahu entah kapan bisa bertemu mereka lagi. Ya sudahlah. Nanti mereka malah ke-GR-an kalau membaca ini :p.

Well, it’s fun. Nice to have a real vacation once for a while. Although there are some things I did that I regret and some things I didn’t do that I regret. What’s that? That’s a secret 😉. Thanks guys for the trip.