Topik yang sedang ramai seputar UN kali ini bukan soal standar kelulusan yang diangap terlalu tinggi (yang benar saja, masih di bawah 6 kan?), namun sola kecurangan saat ujian. Praktek ini tampaknya sudah menjadi ‘tradisi’ yang sulit dihilangkan. Media massa ramai menurunkan berita soal ini, serta ‘sindikat’ di baliknya.

Sindikat? Ya, karena memang ada upaya nyata dari oknum-oknum yang sebetulnya bertanggung jawab atas pendidikan bangsa ini. Seperti artikel yang dimuat di Kompas, hari Sabtu 28 April kemarin. Ada kesepakatan antara kepala sekolah dalam membentuk ‘tim sukses’ untuk ‘membantu’ para siswa saat ujian. Hebat :p. Praktek ini dilakukan tanpa malu. Ada beberapa metode yang digunakan. Memberi bocoran soal dan kunci jawabannya sebelum ujian; Memberi potongan kertas berisi kunci jawaban untuk diedarkan ke seisi ruangan; Lewat pesan pendek; Bahkan ada guru yang terang-terangan membacakan kunci jawaban di dalam ruangan ketika ujian berlangsung.

Bagi para guru yang idealis dan masih memiliki nurani tentu menolak praktek busuk ini. Mereka yang bersuara pun harus menerima konsekuensi yang mirip dengan seorang pegawai yang buka mulut soal korupsi di tempat kerjanya. Dikucilkan, dirumahkan, sebut saja. Sementara pihak yang berwenang lebih memilih cuci tangan, tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut. Duh >_<.

***

Membaca artikel tersebut aku jadi teringat pengalamanku ketika EBTANAS SD beberapa tahun lalu. Ketika itu seorang guru masuk ruang ujian dan memberi potongan kertas berisi kunci jawaban. Ia berpesan untuk mengedarkan kertas itu dan agar kita tidak cerita siapa-siapa. Aku setengah tidak percaya waktu itu. Teman-temanku tanpa ragu memanfaatkan kesempatan itu. Ketika kertas itu sampai di mejaku, sempat tergoda juga untuk membacanya. Satu nomor yang kulihat ternyata berbeda dengan jawabanku. Aku tidak ingat apakah ku mengganti jawabanku untuk nomor itu, yang jelas kertas itu langsung kuoper ke yang lain. Biar masih kecil, aku sudah idealis🙂. Tapi, agak menyesal juga, mungkin seharusnya kertas itu aku buang saja.

Hasilnya, sebagian besar temanku mendapat NEM yang lebih tinggi dariku. Bukannya sombong, tapi di SD itu aku termasuk murid ‘elit’, jadi terus terang aku sedih saat itu. NEM SD ku adalah 39,21 (tidak mungkin melupakan angka ini -_-`). Memang agak rendah untuk ukuran NEM SD saat itu yang mendapatkan NEM 45 ke atas, untuk 5 mata pelajaran, bukanlah hal langka. Tapi, ku tidak bisa menerima bahwa ada yang memperoleh NEM lebih tinggi dariku dengan cara curang. Dan dIbantu oleh pihak sekolah pula.

Bermodal NEM yang hanya segitu, aku nyaris tidak masuk SMP Negeri. Saat itu seingatku hanya bisa mendaftar ke satu sekolah negeri saja, jadi kalau tidak diterima ya silakan cari sekolah swasta. Aku diterima di negeri, dengan status cadangan terakhir yang diterima, alias peringkat terbawah🙂.

Saat SMP dan SMA, praktek seperti itu tidak lagi kutemui. Tapi kalau soal bocoran soal jangan tanya, tetap saja ada. Tapi keterlibatan pihak sekolah (kalau ada) tidak terlihat. Atau mungkin aku yang kurang informasi ^-^. Belakangan, dari teman SMA dan kuliah aku baru tahu bahwa ternyata dulu mereka mengalami hal yang sama. Kukira hanya sekolah ku saja yang keterlaluan. Tapi ….😦