sky.jpg

Hidupnya dulu membahagiakan. Keluarga yang hangat dengan banyak anak. Walau sederhana, namun berkecukupan. Waktu perlahan merenggut semua itu darinya.

Aah … sudah berapa lama masa itu berlalu? Belasan tahun? Puluhan tahun? Ia tidak ingat lagi.

Anak-anaknya kini sudah dewasa dan berkeluarga. Tidak lagi membutuhkan uluran tangannya. Membanggakan sebagai orang tua. Tapi di sisi lain juga membuat ruang kosong baru di hatinya. Pasangan hidupnya pun kemudian meninggal. Kepergiannya semakin mengosongkan hatinya.

Di sini lah ia. Hidup sendirian. Menjalani masa akhir dari hidupnya. Anak-anaknya masih memberi perhatian. Tapi tentu terpecah dengan perhatian kepada keluarganya sendiri. Sepi …

Fisik tidak lagi produktif. Kesehatan semakin memburuk. Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan. Selain rutinitas harian yang membosankan.

Jiwanya berontak. Tiba-tiba ia ingin mencoba berbagai kesenangan anak muda. Tak sesuai usia, siapa yang peduli? Anak-anaknya peduli. Tak ingin orang tuanya jadi bahan olok-olokan. Ia melihatnya lain. Ia merasa anak-anaknya mengekangnya, tapi tidak mau memberi perhatian lebih.

“Mengapa anak-anak bersikap begitu? Apa aku mengajarkan mereka begitu?” pikirnya tiada habis.Sementara sebaliknya merasa sudah memberi perhatian cukup kepada orang tua mereka.

Inikah akhir perjalanan seseorang? Dipenjara oleh rasa sepi menanti ajal tiba? Siapa yang mau seperti itu?

Aku tidak mau …..

Alunan nasyid dari Snada pun terdengar mengalun

 

Sesal

Kisah seorang tua
Yang kini hidup sebatang kara
Tiada sanak saudara
Semua pergi meninggalkannya

Terukir di wajahnya
Penyesalan tiada tara
Kehidupan di masa muda
Penuh dengan noda dan dosa

Tak akan kembali
Saat-saat yang pernah terjadi
Kini tinggal hanya impian
Kehidupan di masa silam

Doa dan air mata
Sebagai pelepas duka lara
Mohon ampunan yang kuasa
Agar berkah dan sejahtera