Tag

Kota bawah tanah terdengar seperti peninggalan peradaban lama. Tak jarang pula ditemui di cerita-cerita petualangan atau dongeng. Tapi kota bawah tanah ini lain, modern dan masih terus berkembang.

Kota bawah tanah tersebut memiliki luas 12 km persegi dengan panjang terowongan lebih dari 32 km. Kompleks bawah tanah itu diberi nama RÉSO pada tahun 2004 yang merupakan homonim suatu kata dari bahasa Prancis yaitu réseau yang berarti jaringan.

reso.jpg

RÉSO memiliki hampir segala yang dimiliki sebuah kota. Pusat perbelanjaan, hotel, bank, perkantoran, museum, universitas, restoran, kafe, teater, sinema, fasilitas kesehatan dan sejenisnya bisa ditemui. Sarana transportasi tersedia 7 stasiun kereta bawah tanah, 2 stasiun kereta dan sebuah terminal bis.

Seseorang dapat tinggal di sana seumur hidupnya bila ia tinggal dan bekerja di sana. Tanpa perlu menjejakkan kakinya di permukaan sama sekali. Kecuali untuk satu hal, tidak ada pemakaman di sana. Jadi jenazah harus dibawa ke permukaan untuk dikubur ^-^.

Kota bawah tanah tersebut dirancang anti cuaca. Suhu dijaga pada kisaran 72 F (22,2 C). Walau di permukaan musim dingin sedang mencapai puncaknya, orang-orang dapat berjalan tanpa perlu mengenakan baju hangat.

Berikut peta kota bawah tanah Montreal yang dibuat oleh the Arrondissement de Ville-Marie. Versi asli dalam format PDF bisa diunduh di sini.

reso-thumb.jpg

***

Bermula dari s sebuah lubang besar milik Canadian National Railways seluas 7 hektar telah lama dibiarkan tak terurus. Terletak di jantung kota Montreal, lubang itu menjadi pemandangan yang tidak mengenakkan. Hingga akhirnya pada tahun 1956 pengembang asal Amerika, William Zeckendorf dipanggil untuk membangun suatu komplek bangunan termasuk sebuah menara setinggi 42 lantai di tempat itu. Komplek itu bernama Place Ville Marie.

Vincent Ponte, seorang perencana kota yang masuk ke dalam tim perancang Zeckendorf melihatnya sebagai kesempatan mewujudkan mimpinya. Yaitu untuk membangun suatu kota bawah tanah yang tahan cuaca.

Idenya mendapatkan reaksi pro dan kontra. Ponte tetap maju dengan idenya. Begitu Place Ville Marie dibuka pada tahun 1962, popularitas kota bawah tanah rancangannya melonjak. Para penyewa berebut memperoleh tempat untuk usahanya di kota bawah tanah yang terus berkembang tersebut.

Tak lama, proyek besar lain dimulai tak jauh dari sana, yaitu Place Bonaventure. Bekerja sama dengan para perancang Place Bonaventure, Ponte menghubungkannya dengan kota bawah tanahnya. Kemudian menyusul komplek-komplek lain seperti Place Victoria, Place du Canada dan lainnya hingga akhirnya menjadi sebesar sekarang.

***

Pembangunan kota bawah tanah seperti ini memang tidak mudah ditiru. Apalagi jika hendak dibangun pada sebuah kota yang telah lama berdiri. Terlebih tanpa perencanaan jelas seperti ehem … Jakarta.

Terakhir, catatan perjalanan tentang kota bawah tanah ini bisa dijadikan referensi juga. Lebih detil (ya wong sudah pernah ke sana :)).