“Apa? Jalan? Serius?”

Reaksi sejenis sudah jamak kutemui. Tampaknya bagi sebagian orang, berjalan kaki merupakan aktifitas ‘ajaib’ bila tidak terpaksa dilakukan. Bagiku merekalah makhluk-makhluk yang ajaib.

Entahlah, tapi kupikir yang namanya kendaraan itu telah membuat kita menjadi semakin manja. Kendaraan diciptakan atas nama kemudahan dan kenyamanan, terutama untuk jarak jauh atau beban berat. Yah, walau umumnya transportasi publik lebih terasa seperti angkutan barang daripada manusia :p. Tapi, kebanyakan menjadikan berkendara sebagai pilihan moda transportasi utama, tak peduli kondisi apa pun. Bahkan mungkin bila ada yang bersedia menggendong, mereka lebih pilih itu.

Duh, ayolah! Masa untuk jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki santai selama 10-20 menit saja tidak mau bila tidak dengan kendaraan? Lebih rela menunggu 15 menit daripada berjalan kaki 10 menit. Lebih suka menunggu pemberi tebengan yang masih asyik dengan kesibukannya. Memang itu semua pilihan. Bisa saja didebat dengan ‘walau lebih lama tapi tidak capek’.

Capek? Mungkin ini alasan utamanya. Bayangan akan rasa lelah yang bakal dirasakan membuat orang malas berjalan kaki. Namun, anehnya berjalan berputar-putar di pertokoan yang bisa berjam-jam lamanya, ternyata bukan pekerjaan melelahkan :p.

Budaya mungkin faktor lain. Aku juga tidak paham bagaimana bangsa ini bisa kehilangan budaya berjalan kaki. Padahal di banyak negara-negara maju orang-orang masih terbiasa berjalan kaki walau berblok-blok jauhnya. Mungkin karena itu jumlah kendaraan di sana, terutama pribadi, tidak terlalu banyak.

Manfaat jalan kaki untuk kesehatan seharusnya cukup untuk menjadi ‘motivasi’. Tentunya dengan cara jalan yang sehat, yaitu tumit mendarat dahulu hingga terakhir ujung jari kaki , bukan diseret-seret, berjalan jinjit, apalagi dengan satu kaki. Karena selain tidak sehat alias cepat lelah dan gampang cedera otot, bisa disangka kurang waras bila ternyata tidak menderita cacat fisik di kaki🙂.

Selain itu, dianjurkan berjalan dengan agak cepat. Jelas bukan model berjalan kaki sambil mata berbelanja tanpa henti yang tentunya lebih nyaman bila dilakukan dengan langkah pendek dan perlahan. Tidak perlu setengah berlari (dua langkah berjalan, dua langkah berlari dan seterusnya) apalagi berlari betulan. Melangkahlah dengan langkah yang agak lebar. Striding kalau kata guru Bahasa Inggris.

Berjalan dengan langkah lebar otomatis membuat kelajuan (silakan buka kembali buku Fisika kalau lupa bedanya dengan kecepatan) bertambah. Jantung pun bekerja lebih keras, sehingga aliran darah lebih lancar. Termasuk ke otak tentunya. Maka tidak heran bila ada orang yang dapat berpikir lebih jernih setelah berjalan kaki beberapa lama.

Berjalan dengan langkah lebar memang agak aneh bila tidak dibiasakan. Jadi cobalah dibiasakan. Lagipula selain sehat secara fisik, cara berjalan seperti ini juga baik secara psikologis. Dengan berjalan secara mantap akan membuat lebih semangat dan percaya diri.

Ah, tapi terkadang berjalan santai juga tak apa. Menikmati berjalan kaki dan mengingat banyak hal yang perlu disyukuri😉.