Coba lakukan penelitian amatiran tentang TV sebagai kebutuhan. Bagi sebagian besar mungkin TV bukan lagi kebutuhan tersier seperti diajarkan di pelajaran ekonomi pada awal tahun 90-an, tapi sudah naik pangkat menjadi kebutuhan sekunder. Tak aneh pula bila ada yang menganggapnya kebutuhan primer. Perabot lain boleh tidak punya, tapi TV? Hoo, harus!

Kotak ajaib yang bisa membuat tubuh sulit diangkat bila sudah tersihir. Sumber informasi, pengetahuan, hiburan, budaya. dengan segala pro-kontra yang menyertainya. Tenaga pengajar sukarela yang menyambangi rumah-rumah. Mengajarkan bagaimana memasak, mendisain rumah, menjadi seorang bintang instan, sampai bagaimana memperlakukan anak tiri dan saingan cinta, bahkan cara membunuh.

Pagi hari mendengar berita yang katanya aktual padahal berita kemarin, sambil berisap berangkat kerja. Pulang kerja, tidak ada salahnya bersantai menonton 1-2 acara, atau sekedar menatap kosong ke layar sambil jari terus mengganti saluran. Hari libur porsi untuk TV otomatis bertambah. Familier?

Kurang lebih begitulah interaksiku dengan makhluk ini, dulu. Sudah sekitar 4-5 bulan ku jarang mendengar ocehannya. Bahkan 2 bulan terakhir ku tidak lagi menjadi pemirsa setia. Kecuali bila makan di tempat yang kebetulan menyetel TV, atau tempat lain. Aneh juga rasanya kadang melihat acara TV setelah sekian lama.

Orang-orang yang khawatir dengan dampat buruk TV terutama pada anak-anaknya, membuat kampanye ‘Hidup tanpa TV’. TV bukan satu-satunya sumber informasi, masih ada koran, majalah, radio, dan internet (dengan sisi negatif yang berbeda tentu), begitu salah satu argumentasi mereka. Kampanye yang tentu tidak mendapat tanggapan hangat. Yah itu lagi-lagi soal pilihan. Sulit memang membayangkan bagaimana hidup tanpa TV bila sudah terbiasa.

Tapi, hei, ku sudah membuktikannya dan ku rasa ku masih baik-baik saja.🙂. Yah sejujurnya memang ku sudah muak dengan pilihan acara yang tersedia. Paling hanya siaran berita, olahraga, dan beberapa acara lain yang agak layak ditonton. Selebihnya? Duh malah bikin kesal saja kalau ditonton.

Alasan lain, dan mungkin yang utama adalah ku terpikat pada sepupu jauhnya, si komputer😀. Rasanya kalau sehari saja tidak berkomputer ria rasanya aneh. Kalau ada sambungan internet yang tak terbatas apalagi :p.

Jadi, hidup tanpa TV siapa takut? Tapi hidup tanpa komputer? Duh nanti dulu ya ^-^.