Perayaan ulang tahun tidak pernah kuanggap sesuatu yang sangat spesial. Namun, manusia memang makhluk yang aneh. Tanpa momen seperti ini mungkin jarang melakukan refleksi diri. Jadi, kupikir ada bagusnya juga. Mengingatkan bahwa waktu benar-benar berlalu.

Secara hitungan tahun matahari, hari ini tepat 24 tahun usiaku. Berdasarkan tahun bulan bahkan usiaku sudah hampir 25. Bukan masa yang sebentar, walau belum juga terlalu lama. Esok hari terasa jauh, hari ini terasa lambat, tapi hari lalu selalu terasa singkat.

Hmm, belum banyak pencapaian yang kuperoleh. Bahkan masih jauh dari yang kuinginkan. Things happened in the past few months, a lot. Pindah tempat tinggal 2 kali. Pindah kerja dan kini akan pindah lagi. Lalu hal-hal lain yang mau tidak mau ikut berubah. Serta lainnya. Wew. Bicara tentang suasana baru :p. Dunia baru, irama hidup baru. Hal-hal yang dalam kondisi dahulu tidak mungkin terjadi.

Tentu lebih menyenangkan memiliki hidup yang ‘stabil’. Lebih fokus dalam mengejar tujuan. Tapi, hei, inilah jalan ku🙂 dan aku tidak berhak untuk protes. Aku yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita, hanya kadang kita terbutakan nafsu. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ku berada di daerah tempat tinggal ku yang sebelumnya lagi. Melihat keadaan yang tidak banyak berubah, satu hal terlintas di benak. Kurasa aku dalam satu sisi lebih beruntung dari mereka. Hidupku lebih dinamis. Sesuatu yang harus kusyukuri bukan?

Hampir berusia dua setengah dekade, seharusnya ku sudah menjadi seorang berpikiran dewasa dan dapat diandalkan. Ehem, seharusnya. Apa ku sudah setidaknya mendekati itu? Aku tidak tahu pandangan orang mengenaiku. Tapi, terus terang ku belum yakin pada diri sendiri soal ini. Karena itulah sekarang ku ingin membuktikan diri. Demi diri sendiri, demi orang-orang di sekitarku dan demi orang-orang yang akan berada di sekitarku kelak🙂. Basi? Biar.

Apakah ku bahagia? Memang definisi bahagia itu apa? Yang jelas setiap orang memiliki ukuran yang berbeda. Dan kurasa hingga kini ku tidak punya alasan untuk tidak bahagia. Meski tidak ada yang istimewa dalam sejarah hidupku, belum🙂, tapi ku jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang. Dan menurutku, kebahagiaan itu tidak untuk dikejar, tapi diciptakan😉.

Orang bilang ku terlalu banyak berpikir, termasuk hal-hal remeh. Dan juga terlalu idealis. Aku adalah pelayar dengan rute perjalanan, bukan yang membiarkan angin dan gelombang mengarahkan kapalku. Soal berpikir, kupikir (nah tuh mikir lagi) siapa pun dalam kondisi ku akan sama. Meski ku suka privasi, tapi sendirian untuk waktu lama bukan hal yang menyenangkan. Dan itulah yang kujalani sehari-hari.

Ah ya, hal yang pasti mulai terlintas di kepala semua orang dalam kisaran usia ini. Menikah. Pribadi, ku menilai diriku belum siap untuk itu. Walau kalau ditanya bingung menjelaskan belum siap apa. Berlindung pada ketidakcukupan materi dari ketidaksiapan mental sepertinya. Direnungkan lagi, motivasi utamaku untuk menikah saat ini sepertinya hanya karena takut. Takut kehilangan. Telah menemukan yang dicari tapi belum dapat memiliki.

Prinsip yang kupegang adalah “Hidup tanpa penyesalan“. Prinsip yang masih sering ku langgar sendiri -_-`. Harus kuakui, masih banyak hal mau tidak mau kusesali. Masih sering menyalahkan keadaan.

Katakan, apa perbedaan antara kritis dan sinis? Antara mengetahui batas diri dan mudah menyerah? Antara mengatakan hal negatif pada diri sendiri dan menasihati diri sendiri? Ack, berpikir yang tidak perlu lagi.

Bagaimanapun masih banyak hal yang patut kusyukuri. Atas nikmat iman. Atas segala kemudahan. Perasaan bersalah yang selalu datang ketika melakukan dosa. Hikmah yang diperoleh dari setiap kejadian. Kesehatan (yang belum kujaga dengan baik). Akal yang senantiasa berpikir. Dapat merasakan keindahan hidup dari sekedar menatap pagi, dari sekedar merasakan angin yang berhembus, bahkan dari simfoni kemacetan lalu lintas. Atas hal-hal lain yang ku lupa sebutkan. Dan masih dapat membuat tulisan ini.

Terakhir, terima kasih kepada yang senantiasa berkenan memberi semangat. Ketika ku minta dengan ‘paksa’ atau karena memang tulus🙂. Serta mau diajak bicara soal hal-hal ‘tidak penting’. Itu sangat berarti untukku, sungguh.