“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali ‘Imran 14)

Ayat tersebut terhampar di lembaran buku yang sedang ku baca. Sangat mengena dengan hal yang malam sebelumnya tiba-tiba terlintas di kepala. Segala perhatian, usaha dan tujuanku selama ini, untuk apa? Terlalu banyak berpikir soal kepentingan pribadi. Apa hidup hanya untuk diri sendiri saja? Alangkah sempit bila seperti itu.

Tidak, aku tidak hendak menjadi tidak peduli dengan urusan dunia. Karena dapat dijadikan bekal nantinya. Tidak ada larangan dalam Islam untuk mencapai yang terbaik dalam segalanya. Bahkan dianjurkan. Sebagian besar dari 10 sahabat yang dijanjikan surga pun adalah pengusaha sukses. Tak sedikit pula sumbangan ilmuwan muslim kepada ilmu pengetahuan. Muslim yang baik adalah muslim yang bermanfaat bagi yang lain.

Masalahnya adalah bagaimana meletakkan dunia dalam genggaman tangan, bukan di hati. Terlihat mudah di teori, tapi seringkali terlupakan karena kesibukan dan lalai. Dan tentu saja, niat. Kepada apakah segala tindakan diniatkan?

Hidayah datang dari arah dan pada saat yang tidak bisa diduga. Lalu, nikmat Nya yang mana lagi yang kan kau dustakan?

~ Semoga tidak sekedar menjadi tulisan kosong