Banyak hal yang ingin kutuangkan setelah iseng menonton kembali animasi ‘Whisper of The Heart‘ dari Studio Ghibli. Cerita tentang pencarian tujuan hidup dan janji untuk masa depan. Dibalut dengan kisah cinta yang manis. Film yang sangat layak ditonton siapa saja🙂.

Ok, cukup penjelasan dan promosi singkat mengenai film itu. Judul dan inti cerita tersebut cukup menggelitikku. Tidak secara literal tentu. Saat ini, bisa dibilang ku mulai tidak puas dengan hidupku. Bukan tidak bahagia, seperti kusebutkan sebelumnya, ku (seharusnya) tidak punya alasan untuk tidak bahagia. Lalu apa masalahnya?

Dulu, gambaran hidup seperti apa yang dapat membuatku puas tampak sederhana dan tidak muluk. Tapi kini ku tidak puas dengan itu. Yah terima kasih kepada bacaan-bacaan dan tontonan yang memprovokasi tentang mengejar mimpi. Kupikir itu masalah dari kebanyakan orang, tidak memiliki mimpi. Atau sederhananya tujuan dalam hidup.

Ada banyak hal yang kuinginkan, tapi mengapa itu tidak bisa memotivasiku? Apakah karena terlalu kecil sehingga tanpa usaha keras niscaya bila Allah mengizinkan pasti tercapai? Akhirnya ku sering berhenti di tengah-tengah.

Kemudian ku menyadari sesuatu. Mungkin, sebagai seseorang yang bangga dengan kemampuan berpikirnya, ku lebih sering menggunakan akal daripada hati. Apa yang sebetulnya ingin kulakukan terhalangi dengan sejuta logika dan peperangan pemikiran dengan bayangan sendiri.

Kadang ku mencoba melakukan tindakan impulsif, tanpa berpikir apa akibatnya. Dan itu menyenangkan. Tapi masih sulit bagiku untuk sering bertindak impulsif. Terutama untuk hal-hal yang masuk wilayah abu-abu boleh tidaknya.

Aku sadar, bahwa salah satu masalah utamaku adalah ku kurang mempunyai teman diskusi. Sulit membuka diri, terlalu pilih-pilih, dan … tidak punya sahabat dekat. Menyedihkan memang. Entah dinding tak terlihat macam apa yang tanpa sadar kubangun di sekelilingku, sehingga tidak ada yang mendekat. Atau mungkin itu hanya khayalanku saja?

Sekarang ku hidup sendiri. Keluarga dekat berada di kota lain. Keluarga sendiri belum juga kubentuk :p. Bangun di pagi hari, melakukan ritual pagi membosankan, bekerja sepanjang hari, kemudian pulang di malamnya. Hanya untuk apa? Untuk diri sendiri. Tidak ada yang mengekang atau mengatur. Duh, mungkin aneh, tapi kadang ku rindu untuk dimarahi ^-^.

Bagi sebagian orang itu mungkin ‘surga’ kebebasan. Tapi bagiku pada akhirnya adalah ‘neraka’ kebosanan. Entah kenapa interaksi dengan orang lain tidak cukup membuatku puas. Apa ini artinya saat untuk memulai lembaran baru? Alias m e n i k a h -_-? Ok itu pembahasan selanjutnya saja …

bersambung …