Tag

,

Satu lagi undangan untuk menjadi ‘teman’ masuk di Inbox. Hmm, apa ini hi5 ? Ah ya dulu pernah membuat akun di situ. Iseng, tak ingat pula siapa yang mengajak. Ya sudahlah ‘terima’ saja. Hanya beberapa detik dan beberapa klik saja. Tunggu … apa username dan password hi5 ku? Percobaan kedua berhasil. Proses undangan itu, tutup halaman, lupakan🙂. Eits, besoknya masuk lagi undangan serupa. Yah efek standar dari menambah ‘teman’.

Ada berapa akun social networks yang ku punya? Hmm, Friendster, hi5, Tagged, Yahoo!360, LinkedIn, Multiply, Facebook, … mungkin ada lagi, tapi kurang ingat. Kebanyakan hanya karena ingin tahu, iseng. Di antara semua itu, hanya akun di LinkedIn yang kupedulikan. Sisanya, bisa ingat username dan passwordnya saja sudah bagus. Itu belum termasuk forum-forum yang ku ikuti (baca: daftar dan lupakan untuk kebanyakan).

Mempunyai banyak akun di berbagai tempat seperti mempunyai banyak identitas di banyak tempat. Uniknya, sebagian dari relasi kita sebetulnya juga menjadi relasi di tempat lain. Redudansi. Lalu untuk apa punya banyak akun?

Sebagian mungkin memilih setia di salah satu. Karena terlanjur banyak relasi di situ. Sehingga berat untuk pindah. Lagipula tidak terlalu banyak perbedaan dari segi fitur. Tapi untuk memilih salah satu pun tidak mudah, akhirnya semua terpaksa dipelihara. Atau akhirnya diabaikan …

Menyenangkan bila semua layanan tersebut sudah mendukung microformats untuk social networks, yaitu XFN. Sehingga memudahkan untuk mengatur relasi lintas layanan. Maka ‘laut’ pemisah pulau-pulau tersebut tidak lagi menjadi halangan.

Pertanyaan: seberapa penting memiliki jaringan seperti ini?

Updated:

Quoting from here:

Most of the social networking fatigue is not because of number of friends, it is because of the number of social networks you need to participate in.