Seseorang akan jujur berekspresi ketika sendirian. Dapat menanggalkan topeng yang biasa dikenakan saat bersama orang lain. Tapi, di kota individualis ini … seseorang dapat dengan mudah merasa sendirian di tengah keramaian. Tidak ada yang peduli. Tenggelam dalam pikiran dan lamunan pribadi. Tanpa sadar wajah merefleksikan perasaan saat itu.

Pernah memperhatikan? Atau malah sering? Fakta menyedihkannya adalah, sebagian dari wajah tersebut adalah wajah bermasalah (bukan soal kulit atau bentuknya tentu). Mengapa begitu?

Kondisi badan yang kurang fit, mengantuk dan sejenisnya, wajar bila membuat wajah tidak cerah. Tentu bukan itu faktor utamanya.

Hidup memang penuh masalah. Masalah lah yang mebuat kita hidup. Wajah-wajah murung itu karena lemah atau hilangnya semangat. Bingung, bosan, muak, sebut saja. Rutinitas kosong. Berangkat untuk beraktifitas di pagi hari tanpa semangat, untuk kemudian kembali di sore hari nya diselimuti rasa lelah.

Jadi, itu wajar?

Kurasa, aku pun termasuk seperti itu. Sehari-hari lebih sering berwajah murung atau tanpa ekspresi seperti orang sering bilang. Tapi mata tidak bisa membohongi orang lain. Hati tidak dapat membohongi diri sendiri. Dan itu bukan hal yang membanggakan.

Belakangan kurasa ku mulai menemukan solusinya. Keikhlasan. Tidak perlu mimpi yang megah, tujuan yang besar untuk bisa menikmati hidup. Hidup sederhana dan biasa saja pun tak masalah. Intinya adalah mengikhlaskan semua kepada Allah. Semua diniatkan untuk Nya.

Baru kemudian, semua masalah akan terasa ringan. Hati terasa tenang. Dan kebahagiaan itu akan hadir dengan sendirinya. Itu teorinya. Tinggal dipraktekkan😉.

Ah. Melihat wajah-wajah yang cerah di perjalanan tentu lebih menyenangkan. Karena perasaan itu menular ke orang di sekitar.