Pernah bertanya-tanya soal apa yang sebenarnya diperiksa atau dicari petugas keamanan ketika seseorang hendak memasuki gedung? Bila membawa mobil, di pintu gerbang akan diminta membuka bagasi dan kaca jendela karena sang petugas hendak mengintip ke dalam. Kalau perlu malah sampai membuka pintu. Tidak lupa bagian bawah mobil pun diintip. Kalau motor biasanya hanya diperiksa barang bawaannya. Lalu memasuki gedung kembali dicegat. Barang bawaan diperiksa, sebagian mengharuskan mereka untuk melewati detektor logam.

Demi keamanan? Seharusnya. Tapi bagaimana prakteknya?

Jamak dijumpai di pertokoan atau perkantoran pemeriksaan keamanan tersebut hanya basa-basi semata. Melihat sekilas ke dalam bagasi dan kabin mobil, mengayun-ayunkan cermin di bagian bawah mobil, lalu beres. Barang bawaan diperiksa sambil lalu. Menyelundupkan barang berbahaya sepertinya tidak sulit bila ingin.

Pemeriksaan dengan detektor logam pun patut dipertanyakan. Logam seperti apa yang bisa membuatnya bereaksi? Apa benar-benar berfungsi? Seharusnya telepon genggam, laptop, bahkan kepala sabuk dari logam dapat membuat detektor logam tersebut bereaksi. Tapi pernahkah membawa barang-barang seperti itu dan tidak lolos pemeriksaan? Di samping pemeriksaan di bandara tentunya. Pernahkah?

Detektor logam bekerja dengan 3 macam teknologi: VLF, PI, dan BFO. Detektor logam genggam umumnya berbasis BFO, sedangkan detektor logam berdiri berbasis PI. Detektor tersebut seharusnya cukup sensitif terhadap keberadaan logam hingga kedalaman 20-30 cm. Karena itu, orang yang akan melewati detektor logam model berdiri diminta untuk menyerahkan barang-barang mengandung logam seperti telepon genggam.

Bila tidak diminta, telepon genggam dan barang lain seperti arloji akan tetap kubawa melewati detektor logam.Dan sampai sekarang belum pernah membuat wajah petugas keamanan mendadak mendelik curiga. Di dalam tasku pun selalu ada benda yang mengandung logam dengan kadar tinggi, tapi tidak pernah membuat detektor berbentuk pentungan itu bereaksi aneh.

Untungnya, aku adalah orang baik-baik ^-^. Dan kebanyakan orang pun sepertinya begitu. Di negara ini terorisme memang hanya ‘numpang tenar’ semata, bukan ancaman nyata. Karena negara ini untungnya tidak (banyak) berdosa pada bangsa lain (dosa-dosa lain tidak perlu dibahas di sini). Tapi siapa tahu? Betul tidak pak🙂 ?

Tapi, pemeriksaan yang serius tentu sangat tidak nyaman dan memakan waktu. Kemacetan tidak hanya akan terjadi di jalan-jalan raya tapi juga di pintu akses gedung. Detektor logam akan berulang kali berbunyi karena banyak yang lupa menyerahkan telepon genggamnya. Pengunjung gedung berdebat dengan petugas karena menolak isi tasnya dilihat. Hmm, mungkin imajinasi yang terlalu liar. Bangsa kita tidak berkelakuan seperti bukan😀 ?

Mungkin yang ditawarkan hanya sekadar sedikit rasa aman. Bila tidak ada pemeriksaan akan ada saja orang yang was-was. Untuk orang-jahat-baru-atau-dadakan mungkin cukup untuk membuat panik dan cemas ketika hendak macam-macam. Dan tentu akan terlihat buruk bila pengelola gedung terlihat cuek. Meski sedikit, setidaknya ada usaha memberi rasa aman itu. Begitukah?