Jika lift atau elevator tidak pernah diciptakan, apakah gedung-gedung akan dibangun setinggi saat ini? Tentu, jika terbiasa mungkin hampir setiap orang bisa mendaki ratusan anak tangga dengan mudah. Namun hal seperti itu bertentangan dengan ‘azas’ kenyamanan yang dicari setiap orang. Jadi sulit dibayangkan hal itu akan terjadi. Mungkin tidak akan ada gedung dengan tingkat hingga belasan.

Lift adalah arteri transportasi di gedung-gedung tinggi. Menggeser posisi tangga menjadi sebatas jalur darurat. Tersembunyi di sudut jauh bangunan karena utilitasnya memang rendah. Lagipula siapa yang mengharapkan peruntukkannya sebagai jalur darurat sering digunakan? Lebih baik bila tidak pernah sama sekali.

stairs.jpg

Jadilah tangga darurat seakan memiliki dunianya sendiri. Dibatasi tembok polos membosankan, tanpa jendela. Penerangan secukupnya. Anak tangga yang jarang dibersihkan. Pegangan tangga yang dilapisi debu tipis. Kepengapan yang tak tersentuh oleh penyejuk udara. Langkah kaki yang bergema ketika menaikinya.

Namun meski sepi, tangga masih memiliki penggemar setia. Lokasi yang tenang untuk menelepon dan berbicara apa saja. Ruangan bebas merokok. Tempat untuk menyantap makanan. Musholla darurat (hmm lantai yang menyedihkan :p). Sekedar ingin menyendiri (atau mungkin bersembunyi dari atasan ^-^). Atau untuk orang yang berpikir menggunakan tangga sebisa mungkin sebagai pengganti olah fisik hariannya, tanpa peduli tatapan heran dari ‘penghuni’ tangga darurat lainnya.