Alas kaki yang praktis. Disainnya yang terbuka cocok untuk iklim tropis. Nyaman dipakai untuk berbagai keperluan. Harganya pun murah meriah. Mulai dari yang bisa ditukar dengan slembar uang 5 ribuan. Hmm, kenapa tulisan ini jadi seperti sedang obral sendal jepit?

Meski lebih murah dibanding alas kaki lain yang lebih elit, entah kenapa ia lebih rentan untuk hilang. Entah karena diambil oleh pencoleng kelas plankton atau tertukar oleh orang yang mencari sendalnya di antara tumpukan sendal milik orang lain dengan instingnya bukan dengan mata. Si empunya sendal hanya bisa bengong ketika mendapati sendal kesayangannya raib. Dan bila tak ada pilihan lain ia harus kembali dengan tang… eh kaki kosong.

Hilang karena dicuri lebih menyenangkan. Biar saja dia menanggung akibatnya. Syukur-syukur tidak tertangkap basah lalu dieksekusi massa hanya karena urusan sepasang alas karet. Tahu begitu mungkin dia akan menyesal. Kenapa tidak sekalian mengambil sendal atau sepatu yang mahal ^-^? Wups, ngaco …

Hilang karena tertukar, membuat kadar bingung sang korban justru bertambah. Dugaan sendal jepitnya hilang bukan karena dicuri tapi tertukar didasari fakta bahwa tak jauh dari TKP sepasang sendal jepit yang mirip tergolek pasrah. Namun tak ada bukti bahwa pemiliknya yang salah pakai.

Bisa jadi memang dicuri. Bisa jadi yang tertukar adalah sendal lain yang berada jauh di sisi lain. Bagaimana pemilikinya bisa salah pakai jangan tanya. Kadang diberi inisial yang dilihat dari jarak puluhan meter pun terlihat tidak berpengaruh. Mungkin dia pikir karena semua sendal jepit itu sama, saling tukar bukan masalah. Salah! Karena dengan asumsi seperti itu, bisa-bisa yang merasa sendalnya tertukar itu malah jadi maling sendal orang lain.

Lebih menyakitkan lagi bila ternyata sendal jepit tersebut bukan dicuri bukan tertukar, tapi … dipinjam! Tentu tanpa meninggalkan pesan cinta apa pun pada pemiliknya. Bila si peminjam kembali paling lambat ketika pemilik sendal sudah pasrah dengan nasib sendalnya itu bagus. Paling parah si peminjam akan mendapat dampratan dari si pemilik yang baik hati dan murah senyum itu. Tapi bila ia mengembalikan ketika sang pemilik sudah mengeloyor pergi dengan lesu, sendal itu pun menjadi tak bertuan lagi.

Ketika (bekas) pemilik bertemu kembali dengan sendal tak bertuan itu, ia pun curiga jangan-jangan itu memang miliknya. Ia pun dihadapkan pada 2 pilihan: dengan yakin mengklaim sendal itu milikinya dengan resiko bila salah ia menjadikan dirinya pencuri; atau merelakannya saja.

~ yap, kasus yang terakhir sepertinya kali ini >_<