Tag

,

Beberapa catatan acak Ramadhan kali ini …

***

Di bulan ini jumlah pedagang gorengan dan es tiba-tiba melonjak. Bahkan yang biasanya tidak berjualan gorengan dan es, kali ini ikut menambahkannya di dagangan mereka. Melihat antusiasme pembeli yang kelaparan menjelang waktu berbuka, sepertinya itu memang keputusan bijak.

Tidak hanya itu, ada suasanan yang berbeda. Bagaimana orang-orang bergegas pulang untuk berbuka dengan keluarga. Aroma bahagia yang tercium di sana sini. Maghrib terasa lebih syahdu dari biasa biasanya. Ah ya, ini bulan Ramadhan.

***

Huff … pertama kalinya menjalani puasa sendirian. Sahur sendirian hanya ditemani koleksi film sebagai penawar kesunyian. Dan kemudian berbuka sendirian. Entah kenapa terasa … aneh. Seperti ada yang hilang. Memang bukan sesuatu yang menyenangkan dijalani sendirian.

Eh, apa ini? Hmm, kejutan yang manis di akhir puasa hari pertama … Fiuh … permainan nasib.

***

Tak berbeda dengan hari-hari biasa, tak berapa lama ku kembali diserang kebosanan dengan menu yang itu-itu saja. Rindu masakan rumah, hiks. Akhirnya bila sedang tidak berminat, lebih memilih untuk mencemil seadanya. Ini membuatku menyadari 2 hal.

Pertama, ternyata ‘hanya’ makan sebanyak itu saja sudah cukup. Ya terasa sedikit lapar, tapi selebihnya baik-baik saja. Hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Ketika berpuasa bersama dengan keluarga, makanan selalu ‘berlimpah’. Jadi ‘rem’ berhenti makan sedikit … yah, blong🙂.

Kedua, masih bisa memilih-milih makanan merupakan nikmat yang tak terkira. Terbiasa hidup nyaman, bergaul dengan orang-orang yang berkecukupan, membuat kita lebih mudah lupa, bahwa masih banyak yang bagi mereka makan bukan pilihan. Makan adalah kemungkinan. Mungkin hari ini bisa makan, mungkin besok tidak. Duh, jadi malu -_-`. Bukankah berpuasa salah satunya agar kita ingat dengan saudara-saudara kita yang seperti itu?

***

Dalam hitungan hari berturut-turut kembali nasib mempermainkan perasaanku. Meski ingin menghindar untuk sementara, tapi ada daya ketika kenyataan berbicara lain? Pada suatu titik, ku sangat senang, namun setelahnya berubah jadi perasaan tak menentu. Ya, resiko dari bermain ‘api’. Sepertinya delusi ini harus kuakhiri, segera. Sebelum ku menjadi gila ka.

***

Bulan ini adalah bulan reuni. Momen silaturahmi. Sudah menjadi bagian dari tradisi. Setelah setahun sibuk dengan urusan masing-masing, berbuka bersama adalah momen yang tepat untuk berkumpul bersama. Hmm, indahnya melihat tali silaturahmi diperat kembali.

Namun, sayang sering ada ironi dibaliknya. Berbuka bersama di restoran, kafe, atau tempat salah satu kawan. Dengan segala makanan berlimpah dan berlebih. Perjamuan istimewa. Tapi sesekali toh tak apa. Namun, di bulan Ramadhan? Apakah bisa menangkap ironinya tanpa kujelaskan?

***

Awal bulan, ku merasa ini merupakan salah satu puasa ‘termudah’ bagiku. Entah kenapa, semua terasa ringan. Namun seiring waktu. Seiring kesadaran bahwa ku masih jauh dari harapan awal. Menjelang penghujung bulan, mengapa terasa semakin berat? Apakah ku kurang ikhlas?

***

Ah ya, terakhir, kepada pembaca setia blog ini (kalau ada), semua yang merasa mengenal dan dikenal diriku, dan khususnya yang membaca postingan ini, terima kasih untuk segalanya. Kita tak kan pernah tahu seberapa besar kontribusi seseorang kepada yang lain😉. Dan tentunya (curi start sedikit) mohon ma’af atas segala kesalahan.

Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum, kulu ‘aamin wa antum bi khoirin, minal ‘aidin wal faidzin.