Tag

,

Memandangi bulan seakan menjadi kebiasaan setiap kali melangkah keluar. Sesuatu yang tak terlukiskan membuatnya memesona. Namun kali ini, bulan ini (ambigu eh?), ada makna lebih darinya. Perubahan bentuknya merupakan pengingat, hitungan mundur bisu bahwa Ramadhan akan segera berakhir.

Ketika purnama tiba, kesadaran itu mulai muncul. Setengah bulan telah berlalu. Bentuknya yang makin menyabit terus mengingatkan niat yang kubuat di akhir bulan sebelumnya. Ternyata tak mudah. Masih jauh dari asa. Memang, ini bukanlah sesuatu yang bisa diraih secara instan.

Ramadhan ini, ku berniat untuk menemukan cinta. Cinta yang seharusnya mudah dirasakan. Karena ia selalu ada di sekililingku. Hanya mataku terlalu silau oleh dunia. Hatiku terlalu keras.

Tanpanya ku belum merasa menjadi seorang muslim sepenuhnya. Apa artinya segala ibadah fisik jika lebih banyak kekosongan yang didapat? Sebagian diriku pun menderita didera kehampaan. Apa gunanya segala kesenangan bila tidak dapat menawar kepahitan hati.

Sebagai manusia biasa, mungkin ku tidak punya alasan untuk tidak bahagia. Tapi ku ingin seperti manusia-manusia luar biasa itu. Mereka yang dapat merasakan kelezatan cinta sejati itu. Mengapa mudah bagi mereka merasakannya? Mengapa sulit untukku? Apa ku urang berusaha? Ataukah dosaku yang telah menggunung tinggi?

Memikirkan ini selalu membuat hati sakit. Tapi mengapa air mata tak kunjung menetes? Apa semua yang kutulis ini benar-benar dari hati? Ataukah hanya kepalsuan lain dariku?