Tag

Tersebutlah seorang Habib. Satu diantara sekian ribu yang memiliki gelar tersebut. Seperti biasa sang Habib dan pengikutnya mengadakan majelis pengajian rutin. Jauh hari, poster dan spanduk telah tersebar untuk mengabarkan kedatangannya.

Hari itu pun tiba, matahari sudah tenggelam beberapa jam sebelumnya. Kesibukan di tempat majelis itu digelar mulai terlihat. Kebetulan kali ini tempat itu berada di tengah-tengah pemukiman padat.

Jamaah pun berdatangan dari segala penjuru dengan berkonvoi. Dengan truk, pickup serta belasan sepeda motor. Shalawat yang dinyanyikan dengan lantang, dan dilatari tabuhan gendang serta jeritan klakson yang entah apa maksudnya. Kepala-kepala pun tertoleh mencari sumber kegaduhan. Sementara di kejauhan, di tempat pertemuan, kembang-kembang api mulai disulut.

***

Tidak perlu membicarakan keaslian keturunan. Jawab dulu pertanyaan sederhana berikut: Apakah Islam mengajarkan untuk membanggakan keturunan? Tentu tidak.

Kemuliaan seseorang tidak didapat dari garis darah. Keimanan tidak dapat pula diwarisi. Satu contoh adalah istri dan salah satu anak Nabi Nuh.

Jikalah mengaku keturunan Rasulullah saw., tidakkah sang Habib merasa jengah dengan pengkultusan akan dirinya?

Jikalah sang Habib adalah penerus ajaran Rasulullah saw., tidakkah ia merasa ada yang salah dengan semua ini?

Perlukah atribut semacam ini sebagai seorang da’i?