Tag

, ,

Seperti biasa, cuaca Jakarta tengah hari panas menyengat. Beberapa orang terlihat duduk bermalasan di sebuah tempat cukur. Seorang pelanggan duduk terkantuk sementara si tukang cukur, yang sepertinya hanya tahu satu model rambut: pendek, asyik membabat rambutnya.

Obrolan si tukang cukur dan teman-temannya, yang datang dan pergi silih berganti, menarik perhatiannya. Kantuk pun hilang dan kedua telinga difungsikan sepenuhnya.

Pembicaraan berputar ke kejadian sehari-hari. Wajar, tak ada yang istimewa. Namun tidak untuk telinga yang biasa hidup dalam kenyamanan.

Nomor buntut yang keluar, ribut-ribut antar anak tongkrongan, si anu yang kena ‘garuk’ polisi, si anu yang ‘berkhianat’ dengan ‘bernyanyi’ di depan polisi, sampai bagaimana anak sebelah meniduri seorang gadis setelah mencampur minumannya dengan obat.

Ah, memang itu aneh? Bukannya itu potret asli masyarakat kita (bisa dibuktikan juga metadata nya kalau perlu :p)? Lihat saja berita kriminal di televisi dan koran tak pernah kehabisan bahan.

Kita saja yang lebih suka menutup mata, telinga dan hati. Toh selama tidak menyangkut kepentingan pribadi, semua bisa dianggap angin lalu. Sudahlah tak perlu dibesar-besarkan.
Kurang lebih seperti itulah tanggapan yang sering ia dengar.

Tak terasa, rambutnya telah selesai dicukur. Kekhawatirannya pun terwujud, potongannya terlalu pendek. Tahu protes apa pun percuma, ia pun membayar dan kemudian berjalan pulang. Tak lama, apa yang ia dengar menghilang begitu saja dari benaknya. Toh itu urusan orang lain bukan?

Uh, sudahkah disebutkan bahwa siang itu panas terasa menyengat?