Hujan turun. Deras. Deru hujan selalu merupakan melodi alam yang indah di telinga ku. Dialog malam sebelumnya serasa tidak nyata. Diringi irama hujan, tebersit senyuman.

***

Hidup adalah pilihan, yang kadang berakhir dengan penyesalan. Serangkaian peristiwa seakan mengarahkan untuk memperbaiki salah satu nya. Hal yang seharusnya ku lakukan sejak dulu, tapi ku selalu mencari-cari pembenaran untuk menghindarinya. Tapi hidup dengan perasaan bersalah, meninggalkan sesuatu tidak terselesaikan dengan baik layaknya pengecut sejati, ku tidak mau seperti itu. Artinya suatu waktu memang harus dilakukan. Tak terhindarkan.

Rencana disusun, kata-kata disiapkan, mencari pengalihan agar tidak terlalu banyak berpikir. Hari itu tiba, ragu dan takut seperti diduga sudah menanti untuk menghadang. Saat seperti ini biasanya ku membuat kondisi yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum ku maju. Kondisi yang sulit untuk dipenuhi, sehingga bisa menjadi alasan, meski sadar tidak ada hubungannya sama sekali.

Dan kondisi tersebut ternyata gagal dicapai. Ketika kekecewaan yang muncul, ku sadar artinya ku benar-benar ingin melakukannya. Tidak ada lagi opsi mundur kalau begitu. Ku hanya berani berharap, setidaknya kerusakan yang kuperbuat bisa diperbaiki, tak lebih. Terwujud atau tidak, masing-masing memiliki konsekuensi. Itulah harga yang harus dibayar.

Dan…

Tak lama, segala kekhawatiran itu pun sirna.

Kesempatan kedua. Awal yang bersih. Tantangan untuk tidak mengacaukannya kembali. Semoga.

***

Sang pemimpi mempunyai harapan. Mempertanyakan mengapa kadang berarti harus berkutat di perbatasan irasionalitas, dan jawaban yang memuaskan mungkin tak akan ada.

Sang pemimpi memiliki keraguan dan rasa takut. Ragu apa ia layak berharap. Takut akan kekecewaan ketika harapan tidak berbuah.

Ada kalanya ketika sang pemimpi menemui jalan buntu. Untuk membuang asa itu, ia tidak mampu, maka disimpanlah dibalik sebuah pintu yang tertutup rapat. Meski tak terlihat, ia tahu ada di sana. Meski tak terlihat, tetap menoreh luka. Lalu mengapa? Keengganan membuangnya berbicara dengan sendirinya.

Namun, bila memang harus terjadi maka terjadi. Pintu itu pun dapat kembali terbuka.