Aoi Tamago
This is a song from Pale Cocoon, a short post-apocalyptic OVA anime about recovering history. The story is not that interesing, even though the arts are amazing. But, what caught my attention is the poetic song in it. Here is the translation of the lyric:
The morning the forest slept.
The smoke contrailing in the sky.
Intersects with the horizon,-
-forming a silver cross.The morning the sea slept.
The moon’s waiting came to an end.
The cradle which waxes and wanes,-
-revealed itself as prayer’s substitute.That is the last angel.
That is the vestigial horn.
The pale cocoon which cannot hatch,-
-even if we lost our smile.The morning the planet slept.
Only the sky, the cloudy sky.
During the era in which God was present.
Wet strawberries glittered in gardens.
We promise someday to meet again.
We will not forget you.
source: gendou.com
Pintu
So, it has come to this…
Dan pintu itu pun tertutup beberapa waktu lalu. Akhirnya. Tidak bisa dibilang ideal, tapi intinya sama. Menyisakan tanya, namun apa pun jawabannya tidak lagi penting. Tak perlu pula mencari kunci yang bisa membuka pintu perandaian.
I’ve done enough. But still, it amazed me. Is it so hard to be honest? Even at the end. It’s not an act of kindness. No.
Tapi, hey, toh tidak seberat yang diduga.
Pendulum
Senantiasa bergerak, senantiasa berayun, senantiasa di tempat yang sama
Friksi, mengikis momentum
Dan akhirnya … berhenti
Kesempatan Kedua
Hujan turun. Deras. Deru hujan selalu merupakan melodi alam yang indah di telinga ku. Dialog malam sebelumnya serasa tidak nyata. Diringi irama hujan, tebersit senyuman.
***
Hidup adalah pilihan, yang kadang berakhir dengan penyesalan. Serangkaian peristiwa seakan mengarahkan untuk memperbaiki salah satu nya. Hal yang seharusnya ku lakukan sejak dulu, tapi ku selalu mencari-cari pembenaran untuk menghindarinya. Tapi hidup dengan perasaan bersalah, meninggalkan sesuatu tidak terselesaikan dengan baik layaknya pengecut sejati, ku tidak mau seperti itu. Artinya suatu waktu memang harus dilakukan. Tak terhindarkan.
Rencana disusun, kata-kata disiapkan, mencari pengalihan agar tidak terlalu banyak berpikir. Hari itu tiba, ragu dan takut seperti diduga sudah menanti untuk menghadang. Saat seperti ini biasanya ku membuat kondisi yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum ku maju. Kondisi yang sulit untuk dipenuhi, sehingga bisa menjadi alasan, meski sadar tidak ada hubungannya sama sekali.
Dan kondisi tersebut ternyata gagal dicapai. Ketika kekecewaan yang muncul, ku sadar artinya ku benar-benar ingin melakukannya. Tidak ada lagi opsi mundur kalau begitu. Ku hanya berani berharap, setidaknya kerusakan yang kuperbuat bisa diperbaiki, tak lebih. Terwujud atau tidak, masing-masing memiliki konsekuensi. Itulah harga yang harus dibayar.
Dan…
Tak lama, segala kekhawatiran itu pun sirna.
Kesempatan kedua. Awal yang bersih. Tantangan untuk tidak mengacaukannya kembali. Semoga.
***
Sang pemimpi mempunyai harapan. Mempertanyakan mengapa kadang berarti harus berkutat di perbatasan irasionalitas, dan jawaban yang memuaskan mungkin tak akan ada.
Sang pemimpi memiliki keraguan dan rasa takut. Ragu apa ia layak berharap. Takut akan kekecewaan ketika harapan tidak berbuah.
Ada kalanya ketika sang pemimpi menemui jalan buntu. Untuk membuang asa itu, ia tidak mampu, maka disimpanlah dibalik sebuah pintu yang tertutup rapat. Meski tak terlihat, ia tahu ada di sana. Meski tak terlihat, tetap menoreh luka. Lalu mengapa? Keengganan membuangnya berbicara dengan sendirinya.
Namun, bila memang harus terjadi maka terjadi. Pintu itu pun dapat kembali terbuka.
2010 dalam untaian kata
Catatan peristiwa tahun lalu…
- Smartphone pertama. Dibeli secara impulsif. Maksud hati memberi hadiah untuk diri sendiri setelah sekian lama, apa daya momen nya sedikit hilang karena diundur secara sepihak :p.
- Habis pc terbitlah laptop. Setelah 4 tahun lebih akhirnya dia memutuskan bahwa dunia terlalu kejam untuknya dan sudah tiba saat baginya untuk meninggalkan semua -_-. Sekarang masih bingung bagaimana cara membuang mayat dr pc itu, dan masih ada data yang masih tertinggal di dalam hard disk nya pula. Ya sudahlah…
- Aplikasi pertama untuk umum: Komutta. Hasil kolaborasi dengan mreunion-labs, dan sudah ada di android market. Akhirnya jadi juga membuat sesuatu yang bermanfaat buat orang lain. Semoga bukan jadi aplikasi terakhir.
- Masih terjebak di tempat yang sama. Tapi dibalik itu semua, ada beberapa hal yang mungkin tak akan terjadi bila jalan yang dilalui sudah berbeda. Karena itulah, mungkin berat, mungkin tak sesuai keinginan, tapi tak ada yang sia-sia.
- Tiba masanya dimana penyangkalan itu harus berakhir. Bulan-bulan yang menyiksa harus diakhiri. Ada sedikit beban yang terangkat, meski tak bisa menghilangkan rasa kecewa itu. Apa mau dikata ketika sesuatu yang kau pikir adalah takdir mu terlepas begitu saja?
- Pelajaran penting: jangan bermain api bila tak ingin terbakar. Diawali dari eksperimen kecil, hingga akhirnya ikut terjebak menjadi objek eksperimen itu sendiri. Ok, terlalu abstrak memang karena sengaja
. Biarlah untuk konsumsi pribadi saja.
- Batasan antara menginginkan sesuatu karena benar-benar menginginkannya, atau karena sekedar tidak ingin melewatkan (mungkin satu-satunya) kesempatan untuk mendapatkannya, adalah sangat tipis sekali. Saat itu rasionalitas terasa bagai ilusi.
- Ingat, jalani hidup tanpa penyesalan. Selagi masih ada waktu untuk memperbaiki sesuatu, selagi jendela kesempatan itu masih terbuka, manfaatkan itu, atau lupakan sama sekali dan jangan lihat ke belakang lagi.
- Segalanya akan lebih mudah bila semua orang bisa jujur. Tapi kita manusia yang diberi cobaan dengan harga diri yang melekat dan keraguan yang senantiasa hadir.
Dan begitulah adanya…
Let it go
Yesterday, my ‘big’ plan ended up in failure. Why I’m not surprised? I feel that, lately I’ve been betrayed by my own wishes. I guess it’s true then that if something can goes wrong, then it will
.
Speaking of wishes. Maybe it’s a godd time for me to learn to let go of something. One of my luckless hope. Few days ago, I lost something that I’ve been keeping for months. Something that remind me why I have to give up that hope. Honestly, I didn’t know how to react. I felt a mixed of emptiness and relief. I know I can’t ever forget it. No one can. So be it.
Anyway, in this quiet morning, I make a little toast for myself.
Cheers.
Smoke
“when you’re in a town that’s covered with smoke
you forget that there’s a world outside
nothing amazing happened here
and so we get used to a world where everything is ordinary
everyday spent here is like a whole lifetime of dying slowly”
(Takkun – FLCL)





Recent Comments